Selasa, 10 November 2015

Hari Terakhir Ubud Writers & Readers Festival: Tjokroaminoto dan Mata Jiwa

Gelaran festival ini sudah cukup lama saya dengar, semakin menggemuruh saat Mbak Sekar (@pembayunsekar) kakak tingkat beda jurusan di kampus menceritakannya melalui kartupos. Saat itu, menjelang keberangkatannya studi ke Swedia, ia sempat tinggal di Bali untuk beberapa bulan. Terasa girangnya ia saat berhasil menghadiri Ubud Writers & Readers Festival. Tahun ini giliran saya yang menetap di Bali. Ubud bukanlah jarak yang dekat dari Buleleng tepi utara. Namun niat yang kuat mengalahkan masa penyembuhan selepas sakit sekalipun. Saya ‘nekat’ mengendarai motor seorang diri, menembus dinginnya Kintamani demi mencicipi UWRF tahun 2015 ini.

Bersama Dyan (@graharidyan) –teman yang tinggal di Ubud, hari itu (01/11) kami memulai dengan menonton film Guru Bangsa: Tjokroaminoto di Betelnut Café, Ubud. Bagi saya, sebenarnya tidak ada klimaks yang menggigit dari film besutan Garin Nugroho tersebut. Meskipun seperti itu, menontonnya pun tidak juga membuat kami lekas bosan. Saya mengamini komentar Dyan, film Tjokroaminoto membuka wawasan kami mengenai sejarah bangsa ini, bangsa Indonesia. Mengenal kembali tokoh-tokoh negara Indonesia, seperti Tjokroaminoto, Haji Samanhudi, Agoes Salim, hingga Semaoen.

Film Tjokroaminoto juga sarat pesan. Di antaranya tentang konsep hijrah (pilgrimage) dan iqra’. Hijrah yaitu berpindah dari tempat yang buruk ke tempat yang lebih baik, sementara iqra’ bermakna membaca. Esensi dari keduanya adalah ketika seseorang mencapai setinggi-tingginya ilmu, sepintar-pintarnya siasat, dan semurni-murninya tauhid (mengesakan Allah). Dibintangi Reza Rahardian sebagai Tjokroaminoto dan dengan durasi kurang lebih 2.5 jam, Tjokroaminoto menjadi salah satu tontonan yang berkualitas dan layak disimak.

Majestic field of green.
Salah satu frasa yang menarik perhatian saya pada salah satu scene film Tjokroaminoto. Indonesia merupakan tempat hijau yang agung (Jw: ijo royo-royo). Fakta ini pula yang mungkin menginspirasi Koes Plus saat menciptakan lagu Kolam Susu, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Negeri yang kaya sumber daya namun belum terberdayakan dengan baik.


Seusai makan malam, saya dan Dyan beranjak menuju halaman Museum Antonio Blanco, tempat di mana pesta penutupan UWRF 2015 digelar. Beberapa musisi tampil silih berganti namun saya belum juga menemukan sesuatu yang menarik hingga presenter memberitahukan bahwa sebentar lagi yang akan tampil adalah Mata Jiwa. Duo musisi bergenre folk-pop dari Bandung ini tidak terlalu asing meski saya tidak akrab dengan lagu-lagunya. Rasanya saya pernah mendengarnya tampil saat menghadiri Pasar Seni ITB November 2014 lalu.

Digawangi Anda Perdana dan Ahmad Reza, Mata Jiwa menjadi penampil pamungkas yang menarik antusias penonton. Bagi yang pernah menonton Ada Apa dengan Cinta, Anda tentu bukan personil yang asing. Ia pernah turut menyanyikan lagu Tentang Seseorang sebagai soundtrack film AAdC tersebut.


Semesta. Lagu ini yang paling berkesan bagi saya. Liriknya dekat dengan alam dan sesama, membumi dan mengakar.

Berkelana rasuki dunia Berkelana menjalani dunia Di antara riuhnya semesta Di antara simpang siur semesta Selalu ingin mencari jawaban Selalu ingin mendapatkan jawaban Mencari arti semesta Berkelana dalam dunia Menyendiri dalam keramaian
Maka dua kebahagiaan di UWRF 2015 ini seperti nostalgia saya menonton film di IFI Jogja dan pertunjukan-pertunjukan seni lainnya di Taman Budaya Yogyakarta. Yeay! Terima kasih semesta.

Minggu, 08 November 2015

Aku Sarjana Teknik, Membaca Orang-Orang Proyek



Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Apakah yang pertama merupakan manifestasi yang kedua? Apakah kejujuran dan kesungguhan sejatinya adalah perkara biasa bagi masyarakat berbudaya, dan harus dipilih karena keduanya merupakan hal yang niscaya untuk menghasilkan kemaslahatan bersama?

Buku yang tinggal satu itu langsung menarik perhatian saya saat mengunjungi toko buku di kota kecil Singaraja. Ditulis oleh Ahmad Tohari yang juga menelurkan novel Ronggeng Dukuh Paruk serta Bekisar Merah, setidaknya dua cerita itu yang pernah saya kenal di perpustakaan saat SMA. Rasanya saya juga belum pernah membaca karya Ahmad Tohari yang –konon katanya– kontroversial tersebut.

Diterbitkan pertama kali pada 2007, Orang-Orang Proyek bertutur mengenai realita pekerjaan proyek yang masih relevan dengan kondisi saat ini. Dalam perkembangannya, proyek tidak saja bermakna pekerjaan membangun infrastruktur seperti jembatan atau gedung tetapi segala sesuatu yang memang dapat ‘diproyekkan’ dan memunculkan peluang ‘ngobyek’. Proyek di masa kini cenderung menjadi stigma dalam keseharian masyarakat. Kejujuran dan kesungguhan dapat diutak-atik demi ego pribadi. Hasilnya, anggaran yang bocor dan kualitas yang tidak sesuai harapan.

Terdapat paragraf yang menarik di halaman 169-170:
Sebagai sarjana teknik Kabul sering bertanya-tanya mengapa terlalu sedikit insinyur yang bisa jadi panutan seperti Rooseno, Sudiarto, atau Sutami. Selain berdedikasi tinggi, mereka meninggalkan karya-karya monumental. Kehidupan pribadi mereka bermartabat, ora kagetan, ora gumunan, apa lagi kemaruk. Sutami malah hidup sangat bersahaja dalam status sebagai menteri pun. Apakah karena mereka masih mengalami pendidikan zaman Belanda yang sangat menekankan idealism serta kedisiplinan ilmu? Apa karena kepribadian mereka memang kuat? Atau lagi, apa karena mereka hidup pada masa yang relatif belum terlalu korup?
 Deretan pertanyaan itu membawa Kabul sampai ke deretan pertanyaan lain di baliknya. Mengapa banyak insinyur dari generasi berikut lebih suka memilih sikap pragmatis, baik dalam karier maupun kehidupan pribadi? Kabul mencoba mereka-reka jawabnya. Mungkin karena zaman sudah berubah. Pragmatisme sudah nyata hadir, sehingga orang-orang idealis tampak sebagai makhluk aneh, lucu, bahkan bloon. Pada zaman yang serba gampangan, orang-orang berhati lurus seakan terkategorikan sebagai mereka yang melu edan ora tahan, yen tan melu anglakoni boya kaduman milik.”

Begitulah idealisme tampak berat dan tidak biasa di zaman sekarang. Ketika arus-arus pragmatisme justru deras mengalir. Tanpa keteguhan (yang kuat) mustahil para idealis dapat bertahan. Novel ini kaya dengan celetukan-celetukan mendalam mengenai dilema orang-orang yang bekerja di proyek. Para insinyur dan sarjana teknik saya kira sangat pantas membacanya, untuk mempertanyakan kembali niat dan tujuan bekerja di bidang tersebut –dan bidang-bidang lainnya tentu saja. Meski tanpa klimaks yang maksimal, Ahmad Tohari justru menyematkan sangat banyak amanat tanpa kesan menggurui. Semua kalimat mengalir sesuai dengan citra-citra yang sedikit banyak sempat melintas dalam isu keseharian kita.


Pada akhirnya cerita Orang-Orang Proyek ini mengingatkan saya pada nasihat ibu ketika saya hampir beranjak menuju dunia kerja. Persis.

Sabtu, 07 November 2015

Kangen Jogja

Tugu Jogja pada suatu malam.

Selamat November. Selain menjadi bulan terbaik untuk menanti hujan, bulan kesebelas ini merupakan bulan dimana saya sangat merindukan Jogja. Kota tempat beraktivitas sebelumnya, tempat berkumpul dengan orang tua, dengan teman-teman. Tempat melalui masa bertumbuh dan mendewasa. Ruang menyapa pagi di bawah kaki Merapi, merentang siang di belantara kota, dan seringkali larut bercerita bersama tawa kala malam.

Meninggalkan kota berhati nyaman pada awal Februari lalu memang tidak mudah. Karena itu berarti menanggalkan sementara habitat beserta segala isinya. Kini, saya merasa telah melewatkan banyak hal –yang kebanyakan luput dari atensi saya pribadi. Satu per satu teman-teman mengabarkan acara demi acara seraya memamerkan foto-fotonya. Konser Frau dan Banda Neira. Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta dengan drama musikalnya. Jogja Biennale saat ini, lalu segera menyambut pekan pemutaran film. Tidak semata menceritakan event-event tersebut, teman-teman pun sempat menyisipkan kalimat, “Kamu kapan selesai di sana? Kangen nonton acara-acara seperti ini dan ada kamunya..”

Angkringan depan KR (sebutan untuk kantor Kedaulatan Rakyat, surat kabar harian lokal Jogja), angkringan depan Stasiun Tugu,dan  Lesehan Sayidan. Betapa saya pun merindukan menghirup aroma Jogja di titik-titik tersebut, sambil menyeruput susu jahe dan menyuap dua bungkus nasi kucing. Sesekali menjumpai para pengamen yang mendendangkan lagu Yogyakarta.  Atau sesekali menggilir mengunjungi café-café yang mulai menjamur di sana, mencicipi ragam kuliner asing yang tiba-tiba hadir.

Tempo hari, beberapa kawan kantor terdahulu mengunggah foto-foto family gathering mereka di Pangandaran. Setelahnya salah satu dari mereka mengabarkan perjalanan selanjutnya adalah ke Pacitan, Jawa Timur akhir Desember nanti. “Ikut ya,” katanya. Saya merindukan mereka, yang telah saya tinggalkan ‘sepihak’ demi mengejar keinginan merantau ke Bali. Saya tahu benar resiko-resiko tersebut saat memutuskan berkelana menyeberang ke pulau di timur Jawa ini. 

Gajah di pelupuk mata tak tampak, peribahasa ini yang kiranya menggambarkan apa yang sebenarnya saya lihat kini terhadap Jogja. Ia begitu ‘kaya’, lebih dari yang pernah saya kira sebelumnya. Kota kreatif yang sangat hidup dengan beragam komunitas dan acara yang terpublikasi bertubi-tubi. Terlalu banyak tujuan yang ingin saya hampiri kemudian –nanti saat kembali pada waktu yang tepat.

Minggu, 04 Oktober 2015

Waktu


Pada surat yang belum terkirim itu, saya menuliskan kepadanya, bahwa begitu banyak hal yang telah jarang saya lakukan bahkan tidak pernah lagi. Menulis blog salah satunya. Juga membalas suratnya yang tertanggal 17 Mei 2015. Saya menolak dikatakan sibuk karena nyatanya masih ada waktu luang. Saat pulang ke rumah beberapa bulan yang lalu, saya pun urung mengemas yarns untuk chrocheting dan knitting yang belum tuntas saya pelajari, saya juga batal membawa lembaran kertas daur ulang beserta beberapa kertas lain. Beberapa hal telah luput. Banyak hal telah terlupakan, lupa bagaimana cara memulainya kembali.

Hutang kepada diri sendiri, sementara waktu terus saja berlalu. Saya lebih suka mengistilahkannya begitu. Tidak sekedar tidak punya waktu saat ingin melakukan sesuatu. Lebih dari itu, kemauan dan sugesti untuk mampu. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Mampu pun belum cukup jika tidak mau.

Tempo hari, saya dan kawan kuliah sepakat ingin memulai project baru yang bermula dari kesukaan kami semasa kuliah: bermain kata. Mencerna situasi, memadu padankan kata, lalu meliukkan diksi. Saat itu, di laman media sosial, kami kerap saling berbalas kalimat “ritmis”. Namun saya masih saja gagu setelah memutuskan “meninggalkan dunia itu”. Simpanan kosakata telah hilang nyaris tak berbekas. Karenanya pilihan menginstal aplikasi KBBI Offline pun saya tempuh demi mengembalikan tabungan kata. Malu rasanya kepada diri saya sendiri di masa produktif (meski) dengan banyak batu sandungan. Puisi-puisi yang sempat terselip pada dua seri novel seakan bukan milik saya lagi.

Sekian bulan yang lalu saya pun digandeng teman-teman lama untuk berkolaborasi menulis. Ide sudah ada, namun eksekusi tak kunjung mulai. Jarak yang membentang di antara kami rasanya tidak menjadi masalah berarti. Titik tolak lah yang masih buntu dan belum menemukan jalan keluar. Lalu? Ya, mandeg. Rekam jejak diri sendiri selayaknya dipertahankan apapun batu yang ditemui saat perjalanan. Jejak itu menentukan posisi diri kini dan selanjutnya. Dan sesal selalu datang di belakang.

Saatnya bangkit!
suara angin malam liris menyisipmengirimkan bait senandung lirih
menubuatkan rasa atas cahaya esokseraya membisikkan: terima kasih aksara 

Selamat menyambut awal pekan!

Sabtu, 20 Juni 2015

Tanah Polpolan

Menjadi arsitek tidak lepas dari eksplorasi terhadap material di sekitarnya. Salah satu pengalaman saya di Rumah Intaran adalah mengenal tanah polpolan. Tanah polpolan adalah tanah biasa yang difermentasikan selama sehari hingga seminggu lamanya. Prosesnya tidak sulit. Tanah dicangkul-cangkul hingga lunak, ditambahkan air sedikit demi sedikit, diinjak-injak sampai kalis, lalu didiamkan, dan masuk tahap fermentasi. Saat akan digunakan, adonan tanah ini diinjak-injak lagi dan ditambahkan air sedikit demi sedikit.

Masyarakat Bali, terutama di pedesaan, banyak yang menggunakan tanah ini dalam kehidupan keseharian mereka, termasuk membangun rumah. Tidak ada alasan lain mereka memilih polpolan selain karena material yang mudah didapat, sudah disediakan alam. Polpolan dapat menggantikan posisi semen, ia dapat rekat pada material lain. Polpolan diambil dari alam, paska pakai pun akan kembali ke alam tanpa efek merusak.

sebelum disimpan dan agar lebih mudah dipindahkan, tanah polpolan dibentuk menjadi bulatan-bulatan sebesar tiga kepalan tangan
Pak Koya sedang mencangkuli tanah di samping rumah untuk dijadikan tanah polpolan
sedikit demi sedikit tanah polpolan diambil untuk diaplikasikan sebagai pelapis tungku tanah
yeah, ini adalah material yang super!

Selasa, 16 Juni 2015

One Day in Popo Danes's

Popo Danes
The challenge for an architect in Bali is how to be good representative of the island by promoting the culture, preserving the environment, and also providing some benefit to the local community.”
--Popo Danes on hellobali Magazine May 2015/Vol 20 No 05

Saat membaca kalimat tersebut, sontak saya teringat bahwa Popo Danes, starchitect Indonesia yang tinggal dan berprofesi di Bali tersebut kini bukanlah sosok yang asing. Tidak saja karena saya juga berada di Bali, tetapi saya juga telah beberapa kali berkunjung ke studionya. Dan berkesempatan menginap di kediaman pribadinya yang berplakat “Republic of Tunisia, Honorary Consul”.


Saya mengakui bahwa Popo Danes adalah arsitek yang lihai berkarya. Saat masuk ke rumah pribadinya, saya hanya terpukau. Bagaimana beliau berpikir hal-hal di luar batas kemajemukan, menemukan trik dan ide yang orang lain mungkin tidak memikirkannya. Juga seperti pernyataannya pada majalah hellobali yang saya kutip di atas, Popo tidak saja ngarsitek , Popo juga seniman. Beliau mengenalkan kekayaan seni budaya nusantara. Di rumahnya terpajang banyak lukisan dan koleksi benda-benda antik. Menemukan mainan jaman kanak-kanak hingga mengagumi peluit kapal layar.



Halaman belakangnya cukup luas dengan hamparan rumput, pepohonan yang tumbuh dengan asri, serta kolam renang. Sementara itu di seberang rumahnya terhampar sawah nan luas. Konon saat matahari tenggelam dan langit cukup cerah, lanskap di sudut mata angin itu sangat bagus. Sayang, saya tidak menjumpainya langsung, hanya melihatnya sejenak dari telepon genggam Popo Danes.


Kolom kayu besar itulah yang mula-mula membuat saya ter-'wow'.

Teknik, material, dan keselarasan dengan lingkungan. Itulah unsur-unsur yang tertangkap dari jejak berarsitektur Popo Danes, setidaknya dari studio dan rumahnya. Saya beruntung mengetahuinya!





Kiri ke kanan: Pak Popo Danes, Ibu Melati Danes, Hafshah, Gek Jyo, Ibu Ayu Gayatri Kresna, Taksu, Pak Gede Kresna, saya, dan Eka.

Senin, 27 April 2015

Pasar-Pasaran di Garden Ubud


Jumat (24/04) saat saya membuka akun Instagram, saya menemukan info Pasar-Pasaran di Garden Café, Ubud hari Ahad (26/04), melalui @vitarlenology. Segera saya menelusuri kabar tersebut lebih lanjut dan memutuskan untuk datang. Pasar-Pasaran merupakan ajang unjuk gigi para pelaku seni dan penyuka kerajinan tangan usia muda. Skalanya cukup kecil jika dibandingkan dengan Pasar Seni ITB yang sangat padat, hanya sekitar dua puluh-an peserta.

Jarak Rumah Intaran dengan daerah-daerah keramaian turistik seperti Ubud tidaklah dekat. Saya dan Haps harus menempuh perjalanan menembus dingin dan berkabutnya kawasan Kintamani yang tidak singkat. Cuaca saat itu mendung sedari rumah. Perjalanan yang direncanakan melewati Tegallalang berubah karena kami terlambat berbelok. Akhirnya kami mencapai Ubud via jalur Tampaksiring yang ramai dengan truk-truk pasir dari Gunung Batur, Kintamani. Dua setengah jam akhirnya mengantarkan saya dan Haps di depan gerbang Garden Café.


Mengamati booth demi booth membuat saya kagum dengan kreativitas anak-anak muda ini. Hal-hal sederhana bahkan daur ulang dapat disulap menjadi sesuatu yang artsy. Para seniman muda ini juga meminimalkan penggunaan plastik pada kemasan dan dekorasi.
Kebahagiaan adalah saat secara tidak terduga kamu bertemu seseorang yang kamu kenal.
Begitulah pula yang terjadi hari itu. Saya tidak membuat janji dengan siapapun hari itu. Tetapi Tuhan menggariskan saya bertemu Dyan dan Jessica. Saya mengenal mereka berdua sejak kunjungan mereka ke Rumah Intaran sekitar dua bulan lalu. Selanjutnya saya bertemu kembali dengan Dyan dalam Belajar dari Desa. Walaupun sesaat tetapi menyenangkan sekali, dunia itu sempit bukan? Setelah bercakap sejenak, saya, Dyan dan Jessica memutuskan berpisah untuk melanjutkan pengembaraan masing-masing di Pasar-Pasaran.

Dua jam di Ubud, saya dan Haps memutuskan pulang setelah bertemu Eka, pada pukul empat. Kali ini kami melalui jalur Tegallalang-Singaraja. Kabut di Kintamani lebih tebal, dingin masih menusuk dengan dobelan-dobelan jaket dan pashmina. Gerimis kecil pun mulai turun. Jarak pandang benar-benar terbatas. Sinyal ponsel tenggelam selama satu jam –seperti biasa. Menembus gunung dari Bali Utara menuju Bali Selatan memang butuh niat dan mental kuat.


Lebih dari itu, bagi saya mengenal daerah di mana tempat kita merantau adalah suatu bentuk proses adaptasi.







Selasa, 31 Maret 2015

Nyepi di Bali


Satu pekan telah berlalu semenjak masyarakat Hindu di Bali merayakan Nyepi. Bagi perantau dengan kultur asal sangat berbeda, berada di tengah-tengah masyarakat asing tentu memperkaya pengalaman dan pengetahuan saya. Mengenal dan mengetahui bagaimana kehidupan sosial dan tradisi berjalan menjadi sebuah catatan tersendiri.

Nyepi atau Perayaan Tahun Baru Saka merupakan salah satu hati besar yang diperingati masyarakat Hindu di Bali. Persiapannya pun sudah dimulai sejak jauh-jauh hari, misalnya dengan membuat ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh adalah semacam raksasa yang terbuat dari berbagai material sesuai kreativitas, bambu, stereofoam, kertas, hingga kain. Beberapa ogoh-ogoh juga disertai elemen-elemen seperti api atau air.

Ogoh-ogoh merupakan simbol kekuatan-kekuatan negatif yang tidak baik berada di sekeliling manusia Hindu Bali dan harus dinetralkan. Caranya, ogoh-ogoh akan diarak di banjar-banjar –hingga seperti festival karena semua masyarakat turun ke jalan dan turut menyemarakkannya. Setelah itu akan dibakar sehingga kekuatan itu akan pergi.


Beruntung saya mendapat kesempatan pula untuk menyaksikan arak-arakan ogoh-ogoh di Desa Tamblang, Buleleng. Saat saya sampai di dekat Pasar Tamblang, persiapan masih berlangsung. Anak-anak dengan kebanggaan penuh turut serta mempersiapkan dan berlatih, tak terkecuali beberapa balita yang menggemaskan. Rata-rata para pengarak ogoh-ogoh ini mengenakan pakaian hitam-hitam –yang mungkin pertanda “kegelapan”.

Sejurus kemudian tampak para pecalang yang kian banyak bersiaga. Mengatur jalannya “festival” karena masyarakat memadati jalanan –yang seringkali tidak terkontrol. Menjelang pukul tiga, arak-arakan ogoh-ogoh mulai melintas satu per satu, begitu banyak bentuknya, kalau kata teman saya dulu hal itu menunjukkan betapa orang-orang Bali memiliki kreativitas dan seni yang tinggi.

Saya pun turut berdesakan diantara riuhnya orang-orang yang bersemangat untuk mendapatkan tempat terdepan. Tak ketinggalan beberapa orang yang melihat ogoh-ogoh dari lantai dua rumah atau dari atas pura –yang biasanya letaknya lebih tinggi dari jalan. Dengan kamera di tangan dan suasana yang padat, tak pelak menyulitkan ruang gerak saya pula. Tak jarang saya kemudian terdesak ke belakang, tak jarang pula kena cegat pecalang.


Pukul lima keseluruhan arak-arakan baru selesai melintas, tentu acara belum selesai karena ritual selanjutnya masih panjang. Ogoh-ogoh itu akan kembali diarak menuju lapangan, kemudian akan diadakan pentas seni dan pembakaran ogoh-ogoh sebagai pamungkas tradisi malam sebelum Nyepi.

---

Pagi hari 1 Saka terasa sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Jalanan sunyi, orang-orang tidak boleh keluar ke jalanan. Saya hanya menghabiskan seharian itu dengan beraktivitas di kompleks Rumah Intaran saja. Terdapat pantangan saat merayakan Nyepi bagi umat Hindu antara lain tidak menyalakan api atau cahaya, tidak bepergian, tidak bekerja, dan tidak bersenang-senang atau menghibur diri. Selain itu pada hari Nyepi, sebagian besar umat Hindu akan berpuasa selama 24 jam.

Waktu terasa begitu lama, selain karena aktivitas yang monoton juga suasana yang sepi. Saya yang tidak merayakannya tentu harus mencari pengalihan lain. Saat masuk kamar saya akan memutar film dan menontonnya, lalu menghabiskan dengan membaca buku. Menjelang senja, lampu matahari mulai redup. Hari mulai gelap. Gelap! Tidak ada lampu sama sekali –kecuali mendesak. Ada pengecualian dalam hal penerangan ini, untuk orang yang sudah tua, orang sakit, dan memiliki bayi.


Konon, malam itu bintang begitu jelas terlihat. Gemerlap gemintang. Saat saya membuka laman media sosial, beberapa orang pun telah mempublikasikan potret-potret langit dari berbagai tempat di Bali. Benar saja, karena tidak ada polusi cahaya yang mengaburkan cahaya dari atas. Namun tidak ada nyali bagi saya untuk keluar kamar padahal menatap langit berbintang adalah kegemaran saya semasa kecil. Esok harinya? Jelas kecewa. 

Jumat, 20 Maret 2015

Melasti Menjelang Nyepi

 

Perayaan Nyepi tahun ini jatuh besok Sabtu (21/03). Kemarin (19/03) saya berkesempatan untuk melihat secara langsung upacara Melasti di Pantai Ponjok Batu, Buleleng, Bali Utara. Sebelum berangkat ke pantai, kami berganti busana, mengenakan kain, kebaya, dan iket terlebih dahulu. Saya yang di Jawa jarang mengenakan kain tentu sangat awam bagaimana caranya. Tidak rapi sama sekali sampai akhirnya Ibu membetulkan cara saya mengenakan kain.

Melasti atau melis merupakan ritual penyucian diri bagi umat Hindu di Bali untuk menyambut hari raya Nyepi. Upacara ini dilangsungkan bersama-sama satu desa di pantai atau di sumber-sumber mata air lain seperti danau. Umat Hindu percaya bahwa dengan melaksanakan melasti maka air kehidupan (tirta amerta) akan menghanyutkan segala hal yang buruk jauh ke laut. Melasti ramai-ramai satu desa hanya dilakukan setahun sekali menjelang Nyepi. Oleh karena itu, ibadah ini terasa begitu istimewa dan membawa kebahagiaan tersendiri bagi penganut Hindu.

Satu per satu umat Hindu berdatangan meski saat itu matahari tepat di atas kepala. Panas begitu menyengat, dan pantai sangat ramai. Suhu udara tidak menyurutkan niat mereka untuk menghadap kepada Tuhan. Wanita-wanita Bali membawa makanan-makanan yang telah ditata, disunggi di atas kepala sebagai maturan (penghaturan) kepada Tuhan. Makanan-makanan itu akan dibariskan di tepi pantai, diatata kembali, dan tidak lupa menyalakan batang-batang dupa. Aroma dupa pun seketika meruap ke udara. Saya berkeliling, mengamati apa yang mereka lakukan, sesekali menjepret. Sesekali kaki menyentuh butiran pasir pantai yang panas. Badan kamera turut memanas, hingga akhirnya saya dan Hafs memutuskan untuk berteduh di bawah pohon, di ujung pantai.


Tak kalah padat, masyarakat banyak yang telah berteduh di bawah pepohonan tersebut. Saya dan Hafs dengan jilbab yang kami kenakan, berniat turut serta duduk di atas batu-batu pantai itu. Sontak kami pun seakan menjadi pusat pandangan mata. Orang-orang menatap. Seorang Bapak bertanya, “Mau ke mana Dik?”. Beberapa saat kemudian, seseorang yang mulanya duduk di batu atas beranjak turun, menghampiri kami. Duduk di sebelah saya dan menanyakan hal yang sama, “Dari mana? Kok bawa-bawa kamera segala? Tinggal di mana?” Dikiranya kami adalah reporter karena beliau kemudian berkata tumben ada yang sampai ke sini padahal biasanya tidak ada apa-apa. Hingga akhirnya beliau mengajak berfoto bersama.


Orang-orang Bali begitu ramah dengan keberadaan saya di sana. Saya senang dapat melihat langsung mereka melakukan Melasti, meski mereka pun memandang saya dengan sorot mata yang tidak biasa. Menjadi minoritas adalah ketakutan pertama saya sebelum akhirnya membulatkan niat untuk berangkat ke Bali. Namun setelah menjalani di sini, saya merasa bahwa di tengah minoritas ini tersembul keramahan yang lain. Bahwa menjadi minoritas berarti kita akan belajar mengerti dan memahami adat dan budaya setempat. Belajar menghargai kebiasaan-kebiasaan yang tidak biasa di lingkungan sebelumnya.


Orang-orang yang hampir semuanya berpakaian warna putih satu per satu duduk rapi menghadap laut dan makanan. Saya pun lekas beranjak, melangkah menuju tengah mereka. Dengan dipandu pemangku, mereka mulai bersembahyang, mengangkat tangan yang ditangkupkan hingga sebatas kepala beberapa kali. Saat itulah suasana terasa hening, khusyu’. Selepas itu para pemangku melangkah ke depan menuju perangkat-perangkat yang turut serta dibawa. Para pemangku akan berkeliling, memercikkan air suci dan memberikan sejumput beras kepada seluruh umat yang datang. Beras itu akan dibagi beberapa untuk ditempelkan di dahi, pelipis kanan dan kiri, bawah leher, serta di belakang daun telinga.



Setelah itu umat Hindu kembali menangkupkan tangan dan menaikkan hingga setinggi kepala. Dengan begitu keseluruhan ritual Melasti telah selesai. Makanan yang tadinya dibawa maturan, diambil kembali dan boleh dimakan. Saat itulah semua umat berdiri dan beranjak pulang. Suasana terasa sangat ramai. Pecalang pun bersiap mengamankan jalanan lagi yang macet.

Selasa, 17 Maret 2015

Animal Planet

Pukul 11.34 WITA. Saya baru saja sejenak ke kamar mandi yang terletak di barat laut paviliun kami selama tinggal di Rumah Intaran. What a surprise! Di dinding kamar mandi tampak seekor tokek yang juga sama-sama “jenggirat”nya begitu saya menyalakan lampu. Tidak sampai menjerit atau bergidik ngeri memang namun cukup membuat hati berkata, “Wow!” Pasalnya tokek ini kemarin siang bercokol di meja kamar, nangkring begitu saja diantara lotion dan tempat lilin. Sebelumnya ia berjalan-jalan di balok-balok atap paviliun lantas sempat turun ke lantai, menghilang sejenak lalu menampakkan diri di atas koper. Pose-pose yang sangat aduhai.

Saya jadi ingat kata-kata di awal program 300 Hari di Rumah Intaran berikut beberapa pertanyaan wawancara via surat elektronik yang memang mencerminkan apa dan bagaimana yang akan dihadapi di sini. Orang-orang yang sampai di Rumah Intaran adalah orang-orang yang telah menyeleksi dirinya sendiri untuk menghadapi apapun yang akan terjadi di depannya, termasuk hidup dengan sahabat-sahabat yang penuh kejutan ini.

Selama 45 hari di Rumah Intaran ini, sudah banyak teman-teman yang mewarnai hari-hari. Belum ada dua jam yang lalu saya berkata kepada Hafs, teman sekamar saya, “Mungkin kita perlu membuat list hewan-hewan apa saja yang telah dan akan kita temui di sini.” Perjumpaan pertama saya adalah dengan anjing-anjing yang tak hanya satu dua. Luki, anjing yang dikerangkeng; Dompu, anjing jantan yang sudah dikebiri; juga Bora dan kelima anak bayinya. Kini anak-anak Bora tinggal menyisakan dua ekor setelah diminta wayah, Mbok Yan, dan teman Taksu. Anjing-anjing kecil tidak seramai dulu, tetapi yang dua ekor tingkahnya kian lincah saja!

Anjing sebenarnya juga bukan hal baru bagi saya. Semasa sekolah dasar, saya pulang berjalan kaki melewati kawasan perkampungan yang didominasi umat Kristen-Katolik dengan anjing-anjing yang berkeliaran. Tetangga sebelah rumah saya pun memelihara anjing. Namun, mengapa saya menjaga darinya adalah karena fiqh (aturan hukum) pada agama yang saya anut di samping memang saya kurang menyukai hewan berambut.

Ayam dan burung dara menjadi peliharaan lain di Rumah Intaran. Dua ayam pejantan dan sepasang burung dara yang kini tinggal satu saja. Nyamuk menjadi sahabat lain yang juga menjadi musuh bersama. Menjelang senja kadangkala mereka bermunculan, menyerbu kolong-kolong meja sehingga kaki-kaki kami kemudian menjadi gatal-gatal tidak karuan. Kicau burung hampir tiap hari menemani pagi hari saat beranjak memulai aktivitas. Sejauh itu masih tampak normal sebelum saya bertemu berbagai hewan unik lainnya.

Cicak.
“Yaah, jackpot lagi!” Seruan ini bisa terjadi kapan saja, tak terduga, tak terkira. Menandai bahwa sesiapa dari saya atau Hafs telah dianugerahi hadiah kotoran cicak yang jatuh di atas sprei. Mungkin beginilah Tuhan membuat kita kreatif. Sementara ini kami menjadi pemburu koran untuk menutupi bagian atas sprei yang sering dijatuhi jackpot. Selain itu, koran ini menjadi alas kami menggelar sajadah untuk melaksanakan ritual shalat wajib lima waktu.

Ngengat.
Pekan lalu kami sangat akrab dengan ngengat di kamar. Ia terbang dan hinggap di berbagai tempat. Sejauh ini tidak menjadi sesuatu yang menghebohkan.

Lintah.
Hewan yang satu ini selalu ditemukan oleh Hafs. Entah sedang pelan-pelan merambat di lantai kamar atau baru sampai di beranda paviliun. Lingkungan sekitar yang lembab memang menjadi hal wajar bertemu dengan makhluk satu ini.

Tawon.
Sarang tawon menggantung di dekat lampu kamar mandi. Beberapa ekor tawon yang tidak sedikit jumlahnya menghuni rumah tersebut. Sementara belakangan ini saya baru menyadari muncul sarang baru di sudut kamar mandi, tepat di atas monoblock. Tawon tidak akan menyerbu apabila tidak diganggu tetapi entah mengapa saya pernah menjadi korbannya.

Belalang sembah.
“Belalang, belalang, bagaimana X tidur?” Spesies satu ini sebenarnya mengingatkan saya pada masa kecil dan bermain bersama bapak. Bapak lah yang mengajari saya memainkan cangcorang atau belalang sembah ini. Dan tak jarang kami akan menemukannya pula di kamar meski kemudian akan menghilang juga diam-diam.

Tentu masih ada sahabat-sahabat alam yang lain yang belum saya lihat atau temui. Yang jelas, ada makhluk misterius yang tingkahnya menjadi kejutan bagi saya dan Hafs. Beberapa hari belakangan saat siang hari kami akan menunaikan shalat dzuhur, tiba-tiba saja makanan berbungkus yang kami tinggalkan di atas meja sudah digerogoti dan tercabik packaging-nya. Dan kami belum dapat memecahkan teka-teki siapa pelakunya. Siapakah dia? Mungkin tikus, tetapi kami sangsi karena kami belum pernah berjumpa dengannya di kamar.

Beruntung tidak ada diantara kami yang sangat ketakutan dengan hal-hal seperti itu. Kami memang harus melaluinya, bersahabat dengan mereka, menghindar atau mengusir baik-baik.




Hampir lupa. Kini kami memiliki peliharaan baru yang kami sebut BSF, singkatan dari Black Soldier Fly. BSF ini merupakan tentara-tentara dengan siklus (metamorfosa) hidup pendek-pendek yang akan menghabiskan sisa-sisa makanan kami lantas melumatnya menjadi cairan yang dapat digunakan sebagai pupuk cair. BSF ini yang akan menyelamatkan sampah-sampah organik kami dan menyulapnya menjadi sesuatu yang nantinya juga bermanfaat bagi kami. Jadi kini yel seusai makan kami adalah, “BSF mau sisa makanan ini nggak ya?”

Kamis, 12 Maret 2015

Blusukan Desa Tejakula bersama Pak Ketut Arthana

Keluar dari rumah peninggalan ibunda Pak Ketut Arthana

Cerita ini datang terlambat. Selepas hujan yang datang tanpa kunjung pergi.

Hari Minggu kemarin (08/03) Rumah Intaran menggelar acara bertajuk “Belajar dari Desa”. Kali ini kami menjelajah Desa Tejakula bersama Bapak Ketut Arthana, arsitek yang juga prinsipal Arte Architect yang berkantor di Bali. Bersama lima belas peserta lain dan tim dari Rumah Intaran, blusukan di kampung halaman Pak Tut ini diawali dengan mengenal rumah peninggalan ibunda Pak Tut, rumah yang dibangun pada tahun 1978 dengan berbagai macam tarik ulur antara Pak Tut dan ibunya. Pertama, Pak Tut menghendaki tanah yang tidak diratakan. Memang saat saya melihat kontur rumah tersebut sangat berbeda-beda elevasi tanahnya. Kedua, tidak boleh ada pohon yang ditebang, kalaupun ada maksimal penebangan hanya boleh lima pohon. Hasilnya kawasan rumah ini masih terlihat rindang. Mengadopsi kebiasaan orang Bali yang lebih menggemari duduk-duduk di tangga daripada di kursi, bangunan-bangunan yang ada pun memiliki beberapa anak tangga. Sementara itu angkul-angkulnya diambil dari rumah tua dengan gaya Singaraja yang mengadopsi langgam Belanda dan atau Portugis.

Pak Tut mendeskripsikan apa dan bagaimana yang terdapat di desanya.
Desa Tejakula merupakan salah satu desa yang tergolong Bale Mula (desa tua, di Bali Selatan akrab disebut Bali Aga). Dan Pura Dalem menjadi catatan historisnya. Pura Dalem diambil dari Jawa, dibawa oleh Mpu Kuturan. Di pura ini saya mengenali kembali tipologi arsitektur Bali dimana tiang-tiang atap digunakan pula sekaligus tiang-tiang konstruksi. Sementara itu, dindingnya hanya sebagai pembatas tanpa adanya beban yang dilimpahkan padanya. Bahkan dekorasinya pun sangat detail, pada tiang-tiang tengah dengan beban nol, terdapat cerukan hingga menyisakan diameter kecil di tengah tiang yang disebut kincut.

Kincut.
Kami lantas menemukan pula sebuah rumah yang kata Pak Tut merepresentasikan kehidupan masyarakat Bali Mula yang digunakan di Tejakula. Ada sebuah rumah dengan pintu hijau, rumah kecil yang berhadapan dengan dapur terbuka, dipisahkan halaman cukup luas di tengahnya. Dapur tersebut dilengkapi dengan bale-bale. Konon, orang yang baru saja menikah akan mendapatkan satu kaveling tanah kecil tersebut dan mereka harus tinggal dahulu di dapur sebelum akhirnya menempati rumah yang sebenarnya.

Desa Tejakula pernah mengalami longsor pada tahun 1969. Pada satu bagian memang ada lereng yang menghijau. Namun ternyata itu akibat tragedi longsor yang membuat para penduduk sadar untuk memelihara hutan. Secara swadaya, masyarakat menanami sendiri hutannya dengan pohon-pohon mahoni, jati, durian, dan lain sebagainya. Apabila terdengar suara orang menebang pohon, penduduk akan dengan sigap mengejar pelakunya.

Bu Menik dan suaminya.
Tak ketinggalan menjumpai Bu Menik, penari Trunajaya 1, yang artinya penari generasi pertama setelah penciptanya. Trunajaya awalnya merupakan tari Gong Kebyar 3 yang setelah dibawa ke hadapan Bapak Soekarno dinilai terlalu panjang sehingga dipotong durasinya. Saat ini di usianya yang tak lagi muda Bu Menik mendedikasikan dirinya untuk mendidik anak-anak muda yang ingin belajar tari tanpa dipungut biaya. Satu tujuannya, agar tari tetap lestari dan ada generasi penerusnya.

Ratu Gede Serabad
Terakhir kali, kami mengunjungi Pura Syahbandar yang merupakan pura yang dahulu dikuasai Cina. Satu hal yang unik, di pura tersebut terdapat satu pelinggih dengan nama Ratu Gede Serabad atau biasa dijuluki pula Ratu Gede Makkah. Makkah adalah tempat yang identik dengan kaum Muslim, dimana kiblat berada di kota tersebut. Pelinggih Ratu Gede Serabad dimaksudkan sebagai penghargaan kepada Muslim. Letaknya yang dekat dengan pelabuhan sebagai tempat singgah para pendatang menimbulkan interaksi social. Betapa masyarakat di zaman dahulu telah menjunjung tinggi toleransi, hidup bersama berdampingan, dan menghormati satu sama lain tanpa ada pertentangan.

Dan hujan kembali menutup perjalanan tujuh kilometer kami hari itu.





Dan untuk makan siang, Pak Tut dan keluarga telah mempersiapkan beberapa sajian khas Desa Tejakula. Saya memilih rujak dan mengguh.

Rujak Ala Bali.
Gula aren dan asam berpadu menjadi satu. Tak lupa disertai taburan irisan mentimun dan kacang goreng.

Mengguh.
Bubur yang mirip dengan bubur manado. Bubur yang dimasak dengan isian sayur-sayuran.

Rujak
Mengguh.

Sabtu, 07 Maret 2015

Diary of Intaran: Mengajar Anak-Anak SD Itu

Foto: Bapak Gede Kresna
Hari ini (07/03) menjadi jadwal saya dan Hafshah untuk mengajar di SD No. 1 Kajanan, Singaraja. Sebagai rangkaian ulang tahun Rumah Intaran yang ketiga, kami merasa perlu untuk membagikan inspirasi kepada anak-anak sekolah dasar. SD No. 1 Kajanan terletak tepat di belakang Masjid Kuna Singaraja yang juga merupakan kawasan kampung Arab. Saya sama sekali tidak menyangka status Sekolah Dasar Negeri di daerah dengan mayoritas beragama Hindu menyuguhkan hal yang sebaliknya. Hanya satu anak saja yang berkeyakinan Budha, selebihnya Muslim.

Pak Edy Baimin, kepala sekolah SD No. 1 Kajanan menyambut kami dengan hangat. Kakeknya berasal dari Jogja, sementara beliau lahir di Banyuwangi dan menetap di Bali semenjak 34 tahun yang lalu. Saat saya dan Hafshah pertama kali menemui Pak Edy untuk meminta ijin Pak Edy banyak bercerita mengenai Jawa dan Bali. Tentu karena ada benang yang mempertemukan kami: asal daerah. Beliau menyambut baik niat kami untuk memberikan materi pengembangan diri mengenai lingkungan hidup.

Sebelum kami memberikan sosialisasi mengenai “Manfaat Pohon Intaran dan Bagaimana Menjaga Lingkungan”, Pak Edy memberikan kata-kata pendahuluan kepada murid-muridnya. Salah satu hal yang paling berkesan bagi saya terletak pada bagian, “… dengarkan apa yang kakak-kakak ini sampaikan. Kalau ada yang bagus, diambil dan dicontoh, terutama jilbabnya. Karena di kelas ini baru satu yang memakai jilbab. Nanti setelah masuk SMP, semua harus memakai jilbab.” Saya merasa bahwa di sekolah ini nuansa keislamannya sangat kuat. Tidak salah ketika saya mengunjungi ruang kepala sekolah, deret-deret piala yang menghiasi etalase kebanyakan diraih dari bidang keagamaan, semisal adzan, tartil, atau hafidz.

Anak-anak SD No. 1 Kajanan sangat antusias dan aktif, bahkan dapat saya bilang terlampau antusias. Bahagia rasanya bisa berbaur dengan anak-anak itu, namun sangat kewalahan saat mereka lantas tidak tenang lagi dan kami kehilangan kendali. Saat kami membagikan daun-daun intaran, mereka belum tahu apa dan bagaimana daun intaran namun tanpa ragu berebut meminta daun-daun intaran. Bahkan turut mencicipinya meski belakangan baru tahu bahwa rasanya pahit. Lalu tiba-tiba kami melihat neem stick telah lenyap, entah siapa yang mengambilnya.

Riuh dan larut dalam tawa. Foto: Ibu Ayu Gayatri.
Antusiasme seperti ini tidak pernah saya alami selama saya bersekolah di Jawa. Jawa, utamanya Jogja dan Solo yang mengajarkan untuk menjunjung tinggi sopan santun kepada orang lain, termasuk kepada orang-orang yang belum dikenal. Nakalnya teman-teman saya waktu itu tidak sebanding dengan anak-anak di sini. Teman-teman sekolah hanya akan lebih berani kepada orang-orang yang sudah dikenalnya. Selebihnya: malu dan sungkan, ewuh pakewuh.

Apapun yang terjadi hari ini, saya merasa sangat beruntung dapat bertemu calon-calon penerus estafet bangsa. Senyum dan semangat mereka menjadi warna baru dalam perjalanan kehidupan saya. Menyampaikan kepada anak-anak ini sedari dini tentang lingkungan semoga dapat menumbuhkan semangat cinta lingkungan sehingga masa depan bumi akan lebih terjaga.

Sampai jumpa di SD Negeri No. 1 Kampung Bugis pekan depan!


***

Mendadak teringat teriakan semangat, “Pemuda Indonesia! Aku untuk Bangsaku!” Apa kabar wahai pemuda?

Jumat, 06 Maret 2015

Diary of Intaran: Menyantap yang Acap Terbuang

Chef Yudi dan kedua asistennya.


Menemui hal yang baru dan tidak terduga selalu menyenangkan. Seperti hari itu (28/02) ketika Rumah Intaran merayakan ulang tahunnya yang ketiga. Kami mengisi hari itu dengan acara memasak sajian kuliner khas desa bersama Chef Yudi dan beberapa tamu.

Ada dua hal baru yang saya temui hari itu mengenai bahan dasar masakan. Batang pisang (gedebok) dan daun cabe jawa (Bl: tabia bun). Saya bertanya-tanya saat asisten chef merajang daun cabe jawa. Berikutnya, ia mengelupas lapisan-lapisan luar batang pisang hingga menyisakan bulatan inti batang yang berwarna putih dengan serat masih muda tidak terlalu padat. Inti batang pisang itu lantas diiris tipis-tipis dan dilepaskan lapisan-lapisannya. Keduanya menjadi bahan dasar dua masakan yang berbeda. Gedebok pisang menjadi bahan baku pembuatan ares, sementara daun-daun cabe jawa menjadi campuran menu lawar serati.

Merajang daun cabe jawa.
Mengiris inti batang pisang (gedebog).

Ares.
Merupakan sajian berkuah kental dari santan berwarna kuning. Mirip sekali dengan opor atau kari sehingga dapat pula disebut Balinese curry. Bahan dasar ares adalah batang pisang yang telah diberi garam dan irisan tipis bawang merah dan diremas-remas lembut sebelum didiamkan dan dikukus. Setelah dikukus, irisan batang pisang akan dicincang kecil-kecil dan dicampurkan dengan kuah serta daging.
 
Ares.

Lawar Serati.
Lawar yang kurang lebih berarti cincangan adalah nama masakan khas dari Pulau Dewata. Semacam urap dengan campuran kelapa yang diparut dalam dua jenis, halus dan kasar. Kelapa yang akan diparut pun dibakar terlebih dahulu hingga kecokelatan sehingga menimbulkan aroma dan rasa yang berbeda. Isiannya pun dapat bermacam-macam, kacang merah, nangka muda, kacang panjang, pakis (paku-pakuan), dan untuk sajian kali itu ditambah daun cabe jawa yang dirajang halus. Serati sendiri berarti bebek, sehingga lawar serati tidak akan lengkap tanpa ditambah cincangan daging bebek.

Lawar.


Basa genep.
Dapat dikatakan bahwa basa genep adalah bumbu rahasia orang Bali, perpaduan bumbu-bumbu termasuk di dalamnya kunyit, kencur, laos, jahe, bawang putih, bawang merah, salam, serai, kemiri, jeruk limau. Sementara basa wangi terdiri dari rempah-rempah seperti merica, pala, jinten, kayu manis, jeruk purut, dan lempuyang (cabai jawa). Gabungan basa genep dan basa wangi menjadi basa gede. Bumbu-bumbu ini biasanya dibuat sekaligus banyak untuk disimpan dan digunakan untuk beberapa masakan karenanya masakan-masakan Bali cenderung memiliki rasa yang mirip, kaya akan rempah-rempah.

Basa genep.

Saya terkesima dengan cara dan komposisi orang Bali memasak. Seorang chef menanggapi keherananku karena ia memasak batang pisang dengan berucap, “Kalau di Jawa, debok bar ditegor mesti diguwang ning luwangan.” Saya serentak mengiyakan. Bagi kami yang tinggal di Jawa, batang pisang memang tidak terlalu dimanfaatkan selain sebagai tanggul sementara untuk mengatur irigasi di sawah atau sebagai tempat untuk menancapkan wayang. Namun orang Bali percaya semua bagian tanaman pisang bermanfaat termasuk batang hingga akar.

Rasa gedebok pisang yang sudah tercampur dengan kuah dan bahan-bahan lain memang tidak kentara. Siapa sangka irisan-irisan kecil itu ternyata gedebok pisang, benar-benar tersamarkan. Tekstur dan rasanya kurang lebih hampir sama dengan jantung pisang meski tetap saja berbeda. Sementara rajangan daun cabe jawa menciptakan sensasi rasa pedas bagi masakan.

Mengenal dan bergaul dengan masyarakat daerah lain menitiskan pengalaman yang berbeda. Tidak tahu bagaimana ceritanya, sesuatu yang acap kali terbuang dapat menjadi santapan yang lezat dan berkelas. Tentu bukan karena dimasak oleh seorang chef ternama karena orang-orang Bali kebanyakan pun menjadikan sajian-sajian aneh ini menjadi menu sehari-hari. Hanya satu hal yang terlewatkan, bahwa menggali kekayaan alam di sekitar selalu tidak terbatas. Selalu ada peluang untuk memanfaatkan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan orang lain.


Jadi, mari belajar dan berjalan, mengedarkan pandangan dan menangkap sesuatu.

Jumat, 27 Februari 2015

Diary of Intaran: Belajar Mendengar



Hampir pukul sebelas waktu Indonesia tengah. Sunyi. Malam kian larut, yang terdengar hanya suara-suara binatang nokturnal. Lalu baru saja sebutir kelapa terdengar jatuh dari pohonnya di halaman depan paviliun. Sesekali suara sepeda motor melintas entah di jalan sebelah mana.

Belajar mendengar. Setidaknya frasa itu menjadi esensi kegiatan inisiasi yang sudah dua kali dilakukan selama saya berada di Rumah Intaran. Kami bertiga, saya, Hafs, dan Eka, sebagai peserta program “300 Hari di Rumah Intaran” diajak ke suatu tempat untuk berdiam selama kurang lebih delapan puluh menit. Membisu selama itu dan membiarkan pendengaran, penglihatan, serta rasa bekerja.

Pada inisiasi tahap pertama (11/02), kami pergi ke persawahan di kawasan Desa Sudaji. Area tersebut menghijau berkontur dengan petak-petak terisi rumpun-rumpun padi. Setelah melepas alas kaki, saya memilih turun ke bawah, ingin melihat pegunungan sekaligus mengintip sungai dan jembatan, serta memandangi sawah di lembah sana. Tepat di jalan setapak menurun saya berhenti dan duduk begitu saja di atas rerumputan liar. Ya, di tempat itu saya akan berdiam, belajar mendengar.

Burung-burung bercericit, sesekali terdengar suara anjing menggonggong. Daun-daun berkerisik tertiup angin. Di bawah sana air mengalir menimbulkan riak-riak kecil. Sementara itu para petani terlihat bekerja di ladangnya. Waktu terasa begitu lambat berjalan. Bagaimana tidak, berdiam saja selama satu jam lebih tentu saja membosankan. Mendadak rintik-rintik hujan mulai menembus rerimbunan pohon yang menaungi saya. Lantas terdengar suara Eka memanggil, menandai selesainya “pertapaan”.

Selanjutnya kami berdiri di tengah-tengah lumpur sawah sembari menjawab beberapa pertanyaan sekaligus membacakannya di hadapan teman-teman dan Bapak Gede Kresna. Pertanyaan-pertanyaan tesebut seputar apa yang kami dengar, kami rasakan, dan kami perhatikan dalam diam tadi.

Bapak Gede Kresna menuturkan bahwa ada kalanya kita sebagai arsitek hanya menuruti kehendak investor, mendesain tanpa mengetahui atau bahkan merasakan kondisi tapaknya. Seringkali nekat merancang tanpa pernah datang ke lokasi. Jika ternyata lokasi tersebut adalah sawah, kita tidak merasakan prihatin sedikit pun, justru bangga telah mendesain bangunan keren. Lebih lanjut, kata Pak Gede Kresna, “Arsitek itu tidak semata-mata tentang bangunan tetapi mengenai pra desain yaitu lingkungan.”




Inisiasi tahap kedua berlangsung sepuluh hari kemudian (22/02), kami bertandang ke tepi laut. Buleleng merupakan kawasan yang berbatasan langsung dengan pantai, Rumah Intaran pun letaknya tidak begitu jauh dari pantai. Kami menyusuri jalanan yang menikung-nikung di bibir pantai, hingga sampai di Desa Pacung. Kali ini saya memilih tempat di antara bebatuan karang dimana saya bisa bermain dengan buih-buih ombak juga bertengger di atas batuan.

Lima belas menit pertama saya habiskan dengan berkecipak di sela buih-buih putih ombak. Lembutnya ombak saat menerpa kaki tidak pernah sama. Sekali, ombak datang begitu keras membawa kerikil agak besar yang terantuk di kaki. Kejutan-kejutan dalam inkonsistensi. Lima belas menit berikutnya saya memutuskan naik ke atas batuan yang tak begitu tinggi. Sesekali cipratan ombak yang mengenai batuan masih terasa. Namun saya memilih menatap laut lepas, memandang jauh ke depan yang seolah tidak berbatas. Melihat kontinuitas gelombang yang datang tanpa henti.

Hingga akhirnya saya lelah melihat dan mendengar. Saya pun mencoba memejamkan mata, dan mencari-cari apa yang saya dengar. Ajaib! Entah mengapa saya justru mendengar deru lalu lintas di saat hujan, persis seperti saya sedang menunggu bis di halte. Begitu saya membuka mata, kedamaian sangat terasa. Saya bersyukur Tuhan telah menganugerahkan penglihatan dan pendengaran yang saling terintegrasi sehingga apa yang saya lihat dan dengar menjadi kesatuan yang apik.

Sampai selesainya waktu berdiam, saya menghabiskan waktu dengan bolak-balik nyemplung dan bertengger. Sampai akhirnya saya melihat kepiting mati, koloni kerang-kerangan, juga nelayan yang tengah mempersiapkan jala. Sempat saya memperhatikan seorang nelayan yang kemudian balik nmemperhatikan saya sembari berbincang dengan rekannya. Sesekali tersenyum dengan kawannya namun mata tak kunjung berpaling. Mungkin tidak biasa melihat orang berdiam saja seorang diri.

Pertanyaan-pertanyaan inisiasi laut tidak terlalu berbeda dengan inisiasi sawah. Hanya saja bobotnya lebih serius menggali persoalan-persoalan yang kemungkinan akan terjadi pada tempat inisiasi tersebut. Akan menjadi seperti apa pantai tersebut kelak? Bagaimana seharusnya yang harus dilakukan terhadap pantai ini? Seberapa besar tingkat kepemilikan warga terhadap pantai? Apa yang dikatakan laut ketika ia menerima sampah-sampah daratan setiap hari?

Inisiasi adalah perenungan bagi saya. Yang seharusnya tidak semata-mata dilakukan hanya saat ada jadwal inisiasi, namun sebisa mungkin dilakukan setiap saat, di manapun berada. Karena mendengar dan mengerti lokasi memerlukan latihan. Dan setelah itu, semoga lebih bijak melangkah.


Masih ada inisiasi ketiga.

Kamis, 19 Februari 2015

Diary of Intaran: Sarapan Kukus Dimasak di Atas Tungku

memasak dengan tungku

Matahari tenggelam di langit Bali lebih lambat, pukul tujuh malam langit baru memucat sebelum akhirnya benar-benar gelap. Tak berbeda dengan pagi hari yang mataharinya tiba lebih siang. Aktivitas pagi kami baru dimulai kurang lebih pukul tujuh saat cahaya mulai merekah. Setelah menyelesaikan shalat subuh dan tilawah tak jarang saya akan kembali meringkuk di balik selimut, menunggu sejenak secercah cahaya menyusup dari sela kisi-kisi.

Seperti hari-hari kemarin, hari ini kami memulai hari dengan menyiapkan sarapan untuk kami sendiri. Memilih dan memilah kayu bakar, juga menjumput beberapa lembar danyuh (daun kelapa kering, Jw: blarak) sebagai pemantik, lalu mencoba peruntungan menyalakan tungku dari tanah pol-polan. Merebus air, mengukus pisang, ketela, atau merebus kacang, atau perpaduan dua-tiganya. Tak lupa memetik daun intaran sebagai sisipan di awal suapan.

Menyalakan api dengan tungku juga tidak mudah. Ada beberapa proses yang harus dilalui, tidak seperti hanya memutar pembuka aliran gas dan memencet tombol penyala api. Walaupun di kampung halaman terdapat tungku namun cukup jarang dipakai untuk memasak. Maka, menyentuh kembali tungku tradisional seperti ini memang memunculkan nuansa baru bagi saya.

Menggoreskan korek api pada sisi pemantiknya, menautkannya dengan danyuh, tidak semudah yang dibayangkan. Hingga saya merasa bahwa korek api di sini lebih mudah rapuh dan apinya menjalar cukup cepat. Perlu adaptasi sembari menemukan cara untuk menjawab pertanyaan “bagaimana”. Proses-proses tersebut menuntut kesabaran untuk tidak mudah menyerah. Ketika danyuh mulai menyala pelan-pelan tetap masih harus menambahkan kayu atau tempurung kelapa untuk menghasilkan nyala api yang lebih stabil.

Setelah itu api tak lantas dapat ditinggalkan begitu saja, bisa jadi api kemudian akan mati karena telah mencapai batas luar tungku. Kalau sudah begitu, kayu harus dimasukkan sejengkal demi sejengkal lagi. Belum lagi apabila terpapar asap yang membuat pedas mata.

Maka di sinilah akhirnya saya mulai belajar untuk “belajar”, menghayati tiap laku dan pola pikir masyarakat terdahulu. Menekuri apa yang mereka maksudkan dengan “penemuan” tersebut. Bahwa tidak sekedar karena saat itu teknologi belum mencapai titik yang lebih modern. Namun bahwa masyarakat saat itu dengan kejeniusannya mampu memahami kehendak dan kebaikan alam. Kayu-kayu atau ranting-ranting pohon yang berjatuhan mampu disulap untuk membuat bara demi melanjutkan hidup. Kontemplasi untuk mensyukuri apa yang ada di sekitar kita tanpa menggerus zat yang tak mampu diperbarui dan menghasilkan elemen yang tak dapat diurai.


Dan akhirnya, voila!

singkong kukus dan daun intaran
menu lengkap ala intaran