Minggu, 31 Juli 2011

Quote #3

Manusia layaknya percaya ia hidup, karenanya ia ada untuk percaya bahwa ia bisa melakukan sesuatu yang luar biasa untuk dirinya.
Bahwa di balik keterbatasan dan ketidaksempurnaan hidup, setiap diri ini adalah kekuatan yang tidak pernah sedikit pun diremehkan oleh Sang Pencipta.
adopted from novel "2", Donny Dhirgantoro

Sabtu, 30 Juli 2011

Tugas Akhir ≠ Skripsi

"Sudah sampai mana progres skripsinya?" :)

Saya sedikit tidak ingin menerima pertanyaan serupa. Tiga tahun sebelas bulan menjelajah kampus bertitel arsitektur, sedikit pun tidak mengenalkan kepada saya kata "skripsi". Kami tidak menyusun lembaran-lembaran kertas penelitian atau apapun --yang kemudian dijuluki skripsi pada sebagian jurusan lain-- di akhir masa pendidikan.

Perkenalkan, inilah yang sedang kami (mahasiswa tingkat akhir jurusan arsitektur/desain interior/seni rupa) perjuangkan pada akhir masa studi: tugas akhir. Di jurusan saya sendiri, tugas akhir ini terdiri dari dua tahap yaitu tahap pembuatan konsep dan tahap studio akhir.

Tahap pembuatan konsep melahirkan lembaran-lembaran kertas yang nampak seperti buku skripsi. Tetapi kami menyebutnya "buku konsep" disingkat menjadi "konsep". :) Dalam tahap ini kami menggodog konsep-konsep dari tema bangunan yang diangkat sejak mengambil mata kuliah Seminar. Konsep tersebut meliputi latar belakang (mengapa tema itu diambil, apakah benar-benar diperlukan oleh masyarakat, hingga apa konsekuensi-konsekuensi yang terjadi jika bangunan itu berdiri). Pada poin ini diuji sejauh mana kekuatan judul dan kemanfaatan proyek. Selanjutnya latar belakang ini diperdalam menjadi beberapa bagian pada bab-bab berikutnya: kajian teori, kajian preseden (studi perbandingan), kajian lokasi proyek, dan kajian bangunan yang direncanakan.
Dua bab terakhir adalah analisa perencanaan dan perancangan serta konsep perencanaan dan perancangan. Dua bab inilah ruh dari konsep kami. Bab kedua sebelum bab terakhir meliputi analisa pemilihan lokasi, analisa pemilihan tapak (site), analisa pencapaian (sirkulasi), analisa iklim (keberadaan matahari, angin), analisa bentuk massa dan gubahan massa, analisa penghawaan dan pencahayaan, analisa struktur, analisa utilitas (listrik, air bersih, air kotor dan hujan, AC, pemadam kebakaran, penangkal petir, sampah) dan ada beberapa opsi lain sesuai tema. Sekian analisa tersebut kemudian disimpulkan menjadi satu kesatuan konsep perencanaan dan perancangan.

Bagian kedua adalah studio akhir. Studio akhir ini terbagi ke dalam empat periode setiap tahunnya. Inilah yang sangat (mencolok) yang membedakan dengan sebagian besar jurusan lain. Tahap konsep menuju studio akhir tidak menerus. Apabila konsep sudah selesai, tidak serta merta bisa masuk studio akhir. Melangkah menuju ke dalamnya harus menyesuaikan dengan pembukaan periode. Satu periode studio akhir dijalani selama tiga bulan, sudah termasuk pameran dan pendadaran. Pada tahap ini kami seakan dikarantina (anggap saja pemanasan sebelum terjun ke dunia kerja) dari pagi hari hingga sore hari. Dalam sehari terdapat tiga kali pencatatan kehadiran yaitu absen pagi, sidak (dosen mem-paraf kartu studio) siang, dan absen sore. Praktis ini semua terasa begitu ketat. 

Produk akhir yang harus dihasilkan meliputi konsep, transformasi desain (produk antara dari konsep menuju gambar kerja), dan gambar kerja (lokasi, situasi, siteplan, denah (tergantung jumlah lantai yang direncanakan), tampak (tergantung gubahan massa tunggal atau majemuk), potongan, tiga dimensional, interior, detail arsitektural dan struktural, denah utilitas, dan sketsa. Semua produk itu (kecuali konsep) kemudian dipamerkan sebelum akhirnya didadar. Matang! :D

sesuatu yang sulit dijelaskan karena sangat berbeda dengan jurusan kebanyakan. mm...konsep saya sudah selesai 90 sekian persen, tinggal menunggu periode studio akhir pada Oktober-Desember nanti. wish me for the best...

Quote #2

To be happy, I don't have to be perfect. I need to learn to love my imperfections.

Jumat, 29 Juli 2011

Kamis, 28 Juli 2011

Tiga Puluh Menit Berlalu

Tiga puluh menit berlalu, siang itu. Saya masih terduduk di bangku panjang baris tengah di warung pojok dekat patung Soekarno Hatta. Siku tangan kanan saya menyender di tepian meja yang juga panjang. Sementara kemudian segelas teh hangat dan sepiring gado-gado dengan lelehan saus kacangnya telah selesai diracik dan meluncur tepat di bawah dagu saya.

Tiga puluh menit berlalu, siang itu. Saya sesekali masih tak bisa menepis keheranan terhadap dua sosok lelaki di bangku depan. Di udara yang panas sekali itu, syal melilit di lehernya, rapat. Tubuhnya terbalut jaket kulit, rapat. Celana jeans, sepatu vantofel, blackberry, serta sebungkus rokok dan sebuah korek. Di sampingnya,  seorang temannya (yang) sedikit lebih "membumi". Lelaki yang juga berbalut jaket kulit, celana jeans, ransel hitam, dan handphone butut. Sebatang rokok nangkring di mulutnya. Sesekali ujung bibirnya mengepulkan asap tipis, yang jika meruah ke arah belakang, saya ingin balik mengerucutkan bibir, meniupnya kembali agar terbang pulang ke meja depan.

Tiga puluh menit berlalu. Sayangnya, saya tentu saja tidak cukup sopan untuk mengatakan dan menanyakan ini. Tentang mereka...

Saya hanya ingin tahu, mengapa dalam suhu yang begini panasnya, lelaki itu masih bertahan mengalungkan syal di tengkuk, melilitkan di leher, dan bersahabat dengan jaket kulit? Dan lagi, apa nikmatnya merokok selain untuk atraksi mengepulkan asap-asap tipis itu?

sepotong kisah kala siang menjelang sore ini. auoooo...

Rabu, 27 Juli 2011

Madre

"Apa rasanya sejarah hidup kita berubah dalam sehari? Kayak tahu-tahu kecemplung di pasir isap. Makin dalam makin sesak. Hidup saya hari kemarin lebih sederhana. Hari ini hidup saya sangat kompleks. Darah saya mendadak seperempat Tionghoa, nenek saya ternyata tukang bikin roti, dan dia, bersama kakek yang tidak saya kenal, mewariskan anggota keluarga yang tidak pernah saya tahu: Madre."
Dee tidak berbicara tentang cinta. Dia tidak berkisah tentang roman picisan. Madre begitu sederhana. Madre begitu dekat dengan kehidupan. Ia hanya adonan roti yang dikulturkan berpuluh tahun, diwariskan dari masa ke masa. Madre menghadirkan kesan klasik dengan roti klasik yang diramu di dalam bangunan kuno kolonial. Madre menyiratkan loyalitas berkarya.

Madre menawarkan pesan kehidupan yang mendalam.

Betapa tak seharusnya kita berpikir sempit dan terburu-buru. Namun bukan berarti harus berlama-lama dan menyerah pada takdir. Madre mengajarkan ketegasan bersikap. Madre menuturkan kesegeraan mengambil langkah untuk hal-hal sederhana nan berharga di sekeliling kita. Madre membiuskan hawa bahwa tidak seharusnya kita banyak berkelit untuk menjadi sesuatu. Jika ada kemauan (dan sedikit keterpaksaan), maka kita akan menjadi apa yang kita inginkan. Karena terkadang kita juga harus memaksa diri sendiri untuk bergegas bertindak. :)

saya jadi ingin mencicipi secuil banana bread dan secangkir kopi-nya Pak Hadi di meja bundar Tansen de Bakker yang konon rasanya lain daripada yang lain. teriring alunan nada dari piringan hitam keroncong di dalam bangunan tua dengan dikelilingin furniture-furniture klasik nan antik. kembalilah saya ke djaman tempoe doeloe. ;)

Bintang untuk Angka 29

Alhamdulillah. :)

Saya bahagia.

Angka 29 merupakan salah satu angka yang menghiasi satu sisi lembar putih di dreamlist book saya. Saya telah menulis sekian puluh mimpi dalam satu sketch book kecil. Buku yang kini telah besampul re-cycle paper telah memberikan warna yang luar biasa dalam hidup. Pada urutan 29, saya menuliskan ingin memiliki teman dari luar negeri (especially Europe) minimal satu orang. Dan kini, insyaAllah tak hanya satu orang yang saya miliki. Jadi, sebagai tanda mata, pagi ini saya membubuhkan gambar bintang yang tengah tersenyum di sudut lamannya. :)

Saya selalu percaya pada harapan yang mewujud mimpi. Mimpi yang tak hanya bualan semata, mimpi yang dapat menjadi kenyataan-kenyataan indah. Saya pun percaya kekuatan dan energi yang digenggam mimpi. Dan saya lebih percaya pada mimpi-mimpi yang tertulis bahkan tervisualisasikan. Tulisan dan visualisasi itu akan membantu gerakan pikiran (yang "mungkin" sudah menyimpan banyak memori). Maka benarlah pepatah abadi itu, bahwa memang tiada yang tidak mungkin untuk terjadi apabila ada niat dan kemauan.

So lucky for me, karena saya pun mendapat dukungan dari orang yang senantiasa mengiringi langkah kaki ini selama lebih dari dua puluh tahun, ibu. Dan semua ini juga tak lepas dari postcrossing yang belum genap satu bulan saya kenal.

Berbicara tentang postcossing sebenarnya rasanya saya cukup nekat. Ya, entahlah. Terkadang ketika saya sudah memiliki keinginan maka keinginan itu akan mulai saya kejar saat itu juga. Tak ada alasan lagi untuk menunda-nunda waktu. Maka ketika beberapa teman masih memikirkan, "Ya besok saya akan mendaftar," atau, "Ya, besok saya akan mencari kartu pos dulu," atau "Bagaimana saya dapat menuliskannya dalam bahasa dunia," saya telah menetapkan hari dimana saya mendaftar, menetapkan hari mencari kartu pos, dan untuk bahasa dunia... saya tak banyak peduli dengan grammar meski memang hal tersebut juga harus diperhatikan. Ya, hanya keberanian dan (sedikit) kenekatan? :D

Senin, 25 Juli 2011

A Little Postcard Swap ep. Germany

:D Lovable day!
A half hour ago, I opened my email inbox. Surprisingly, I read this message one. A message from Corinna/Tetsuko from Germany, Europe. :D
It was a "spam" message, but I like it. I am happy cause I haven't receive anyone address in Germany where I could send my postcard. So, I think this little poscard swap is very "valuable" for me. Thanks Corinna! :)

Quote #1

Seandainya semua orang memiliki kecerdasan yang sama dalam menulis, maka kesabaranlah yang akan membuat engkau berbeda. (Fauzil Adhim)

Catatan Tengah Malam: Meruang di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Jarum jam dinding sudah melampaui angka dua belas, beberapa jam lagi mentari kan menyapa kembali. Namun saya masih ingin menikmati kesunyian malam ini setelah sekian lama tak mereguknya. :) Semua masih seperti dulu, Udara, buaian angin, juga nyanyian alam. Segalanya terasa syahdu...

perspektif MAJT
Mengingat kembali perjalanan kurang lebih dua pekan lalu ketika pada sebuah senja menyambangi kompleks Masjid Agung Jawa Tengah, di Semarang. Masjid seluas kurang lebih sepuluh hektar ini dibangun dengan perpaduan berbagai langgam, meliputi langgam arsitektur timur tengah dan langgam arsitektur jawa. Tak heran jika kompleks masjid ini pernah menjadi salah satu setting suatu film yang didasarkan pada karya besutan Habiburrahman El Shirazy.
Selain plaza di kompeks masjid ini terdapat area shalat yang sangat luas. Konon pada area yang pada saat saya kunjungi terbuka, terdapat payung raksasa yang dikembangkan pada saat hari Jumat untuk mengakomodasi jama'ah shalat Jum'at.  Tak tanggung tanggung, payung tersebut berjumlah enam buah. Di kompleks masjid ini juga terdapat menara pandang setinggi sembilan belas lantai, dan lantai delapan belas merupakan restoran. Sempat membayangkan bagaimana transportasi loading dock-nya, bagaimana mobilitas bahan-bahan makanannya, dan terutama bagaimana sistem maintenance-nya?
Pelayanan di masjid ini, saya akui dua jempol. Keran air wudhu sempat saya lihat (tanpa menghitung, karena setiap keran sudah ada angka urutannya) berjumlah tak kurang dari lima puluh buah dan itu hanya di area wudhu putri saja. Sementara untuk area shalat, saya takjub karena hampir setiap jengkal bangunan dapat digunakan untuk shalat. Bordes tangga dibuat sangat lebar, pun selasar-selasar "sempit tapi lebar" yang mengitari void.
Secara sepintas, tipikal bentuk dasar bangunan depan bangunan MAJT ini mirip bentuk dasar Colosseum, namun ada pula yang mengatakan mirip di Masjidil Haram. Tiang-tiang plaza yang dihubungkan dengan plat beton dengan ornamen pelubangan setengah lingkaran sesuai dengan bentuk dasar yang menstilasi unsur persegi dan lingkaran. 
Berapa biaya pembangunan masjid ini? Bagaimana bentuk denah dan potongannya? Serumit apakah? Pertanyaan-pertanyaan itu masih menghantui setiap kali saya melihat portrial MAJT. Sejenak berada di sana masih belum melegakan dahaga saya. Jika ada kesempatan mengunjungi Semarang lagi, masih ingin sekali meluangkan waktu menjejak lagi di sana. :)
 Catatan ini ditulis dengan pola yang pernah saya dapatkan pada mata kuliah Kuliah Kerja Lapangan. Menulis berdasarkan rasa yang didapat, menulis setelah meruang! :D

Good nite.... ups good morning! :)

Minggu, 24 Juli 2011

:))

apakah saya memang telah pernah sangat jauh pergi dari kalian, meski jarak dan waktu ini sejujurnya bisa ditepis.
sepotong kata bahagia yang kukirim semalam kemudian berbalas kalimat yang cukup menohok. :))

"hari ini aku pun bahagia bisa bertatap muka denganmu. sungguh aku seperti menemukan kau yang dulu lagi. bisa jalan-jalan bareng tanpa kau disibukkan dengan hp atau kerjaanmu"
Saya ingin tersenyum kembali mengingat rangkaian kata-kata itu. Status quo yang kini tengah saya miliki, insyaAllah menautkan kembali silaturahim yang sempat mencuat sejenak. Status quo, bisakah saya menyebutnya begitu. Saya belum lulus, saya sudah tidak mengambil mata kuliah selain tugas akhir, saya tidak sedang mengambil cuti, dan saya sedang tidak aktif di kampus. Saya hanya menunggu periode studio Oktober mendatang. (perbedaan pola penyelesaian kuliah yang berbeda dengan jurusan lain ini, terkadang sulit dijelaskan). Saya juga sedang tidak memiliki tanggungan pekerjaan apapun yang menuntut saya untuk segera menyelesaikannya. Jadi... wajar. :))

Alhamdulillah telah banyak loncatan loncatan indah dalam hidup ini, dan itu tidak akan pernah terjadi salah satunya jika kau tak pernah mewarnai cerita hidupku, sahabat...

Suatu Hari di Muslim Fair 2011

Sabtu, 23 Juli 2011

:) Saya sudah lama menunggu hari ini akan tiba. Emm...tepatnya bukan hari ini tetapi hari seperti ini. Ketika kami (empat sekawan--saya dan tiga sahabat, teman masa bangku putih abu-abu) berkumpul. Dengan diferensiasi jurusan kuliah yang kami pilih, tak ayal memang menerbitkan sejengkal jarak dan waktu yang bagai tabir tak tertembus. Apalagi saya pun telah menancapkan jejak kuliah di kota lain yang notabene jaraknya kurang lebih 80 km.

Pagi menjelang siang, kami berkumpul di suatu kotak kecil, di sudut kampus di Jogja, yang jamak kami sebut basecamp. Sejenak kemudian meluncurlah jiwa-jiwa dan raga-raga ini menuju area fair.

To be honest, saya merasakan seperti menemukan oase yang telah hilang sekian bulan. Kegilaan memburu buku-buku yang telah tercatat di daftar panjang. Sebuah prinsip yang entah tak bisa jua terkikis: saya lebih menyukai memiliki buku itu meskipun saya telah melalap habis isinya. Maka, satu eksemplar Ayat-Ayat Cinta-nya Habiburrahman El Shirazy yang harganya telah miring sekali pun mampir pula ke kasir sebelum masuk ransel di punggung. :o

Sedikit intermezzo, ada beberapa teman yang bertanya mengapa. Kelak saya memimpikan rumah dengan buku sebagai bagian dari elemen interiornya. Seringkali saya membayangkan bagaimana bentuk rupa interior beberapa ruangan dengan jajaran buku di rak sudut atau di atas meja. Terbayang pula kelak nanti terbentuk sebuah ruang semiterbuka yang akan disebut perpustakaan mini (sekaligus sebagai mini-studio). Terpikir pula kelak, buku-buku ini dapat saya wariskan kepada generasi yang akan datang. Belajar dari pengalaman, mencari buku-buku terbitan lama, buku-buku klasik, ternyata sangat-tidak-mudah.

Kembali ke Muslim Fair, bersamaan dengan AAC, saya mencomot Sebelas Patriot dan Madre. Lalu melangkah menuju stand berikutnya dan saya tak bisa menepis tangan-tangan ini menjajari setiap sisi rak yang kebanyakan berisi buku-buku lawas. Susah menemukan buku yang berkualitas untuk ukuran dan minat saya. Hingga kemudian salah satu sahabat saya berkata, "Itu tadi ada Secangkir Teh, ga tau bagus apa ga." Kontan saya menuju barisan rak itu dan betapa terkejutnya saya menjumpai nama Soni Farid Maulana terpampang di sampul buku tersebut. Soni adalah salah satu tokoh sastra, terutama puisi, yang telah menjajari langkah saya berkarya meskipun hanya dengan beberapa puisinya.Larik-larik sajaknya yang banyak berkisah tentang maut terkadang mampu menjerembabkan saya dengan mudahnya.

Jadi, buku berharga yang mampu saya kumpulkan dalam even ini adalah empat buku di atas:
  1. Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy
  2. Madre, Dee
  3. Sebelas Patriot, Andrea Hirata
  4. Secangkir Teh, Soni Farid Maulana
ditambah dengan buku Inspiring Words for Writer-nya Fauzil Adzhim yang kemudian kata sahabat saya merupakan tanda kembalinya saya dari "dunia lain". :) Saya telah meninggalkan dunia menulis selama kurang lebih satu semester dengan absennya saya dari postingan notes di facebook. Dan kini saya merasa saya tak dapat meninggalkan dunia menulis, dunia literasi, dunia kata, dunia sastra. Kini saya telah mendeaktifkan akun facebook, dan di sinilah rumah saya sekarang. :)

Patriot PSSI

Indonesia, Aku Datang
Indonesia, Engkau Menang
Tuntas sudah akhirnya saya menelusuri huruf demi huruf dalam lembaran-lembaran novel teranyar Andrea Hirata, Sang Patriot.
Awal menyentuh novel bercover biru ini, saya agak sedikit kecewa. Betapa tidak, novel ini "hanya" terdiri dari seratus sekian halaman, lebih tipis dari novel-novel Andrea sebelumnya. Sedangkan sisi batin saya yang lain berkata,"Belum tentu juga novel setebal lima puluh halaman bisa kamu bikin tho?". Lagi pula saya benar-benar menyukai ritmik kata Andrea pada keenam novel sebelumnya. Lalu kenapa yang ini tidak? Bersama Madre-nya Dee akhirnya saya bawa Sang Patriot menuju kasir. :)
Sang Patriot berkisah tentang kegemaran Ikal dengan bola, terutama PSSI, yang baginya adalah cinta pertamanya --pada segi persepakbolaan tentunya. Berawal dari saat ia menemukan potret ayahnya yang ternyata sang patriot sepakbola dalam melawan kolonial. Tergugah dengan masa lalu ayahnya, maka Ikal pun turut serta dalam klub sepakbola di kampungnya dan berjuang mengikuti seleksi setingkat demi setingkat, dengan impian menyandang gelar "pemain junior PSSI". Harapan tinggallah harapan karena ia gagal menuju gelanggang PSSI yang hanya tinggal selangkah lagi.
Petualangan selanjutnya melompat saat Ikal telah menginjakkan kaki di benua Eropa. Ikal dan Arai backpacking ke Spanyol. Arai bertolak ke Alhambra, sedang Ikal bergegas ke Madrid untuk membeli kaos dari toko resmi Real Madrid di markas besarnya, Estadio Santiago Bernabeu. Kelak kaos itu dipersembahkannya kepada sang ayah dan pelatih di kampung. Perjuangan untuk mendapatkan kaos itu pun tidak mudah karena ternyata kemudian tersedia kaos bertanda tangan asli Luis Figo yang tinggal satu. Dan pastinya untuk kaos dengan tanda tangan asli itu harganya melambung sedangkan bekal Ikal saat itu --meminjam istilah Andrea-- tiarap.
Secara keseluruhan, saya masih belum memiliki kesan yang kuat tentang novel ini, kecuali sepotong kata akhir Andrea (nanti akan saya kutip di akhir) dan kenarsisan Andrea :Dv. Saya merasa novel ini seperti ditulis dengan terburu-buru karena cerita terkesan melompat-lompat dan tidak sedetail laiknya novel sebelumnya. Mungkinkah novel ini ditulis dan diterbitkan karena bertepatan dengan histeria persepakbolaan tanah air yang tengah menggema? Padahal sebelumnya sempat tersiar kabar bahwa novel terbaru Andrea berjudul Ayah. Kini Ayah akan terbit setelah Sebelas Patriot.
Atau bisa jadi karena novel ini berkisah tentang sepakbola sedangkan saya masih belajar menikmati sepakbola? Yah, apapun itu pada akhirnya saya telah memiliki buku ini yang akan menghuni sepetak ruang di rak buku saya. Dan saya masih akan menggemari karya-karya Andrea Hirata. :)

cover sebelas patriot
"Jika ada hal lain yang sangat menakjubkan di dunia ini selain cinta, adalah sepakbola."
--Andrea Hirata

Sabtu, 23 Juli 2011

First Arrived Postcard

Today i'm very happy! My first postcard arrived in Netherlands, and the status has change become registered. :)

simple map of my postcard's travelling

Jumat, 22 Juli 2011

Setumpuk Kata Atas Namamu

tanpa secangkir cokelat hangat.
pun brownies yang selalu kau potong serong.
alunan nada beraura winter mengalun pelan.
menyenandungkan sedan yang tertahan.

lalu kudengar serpihan gerimis yang mengecup
tanahku. basah.
kau telah tiada. pun hujan yang mendusta.

hanya tertinggal setumpuk kata atas namamu.
mengonggok di sudut kamar bahagia.

*saya rindu bermain kata seperti itu, maaf benakku saya terpaksa absen satu semester.

Kamis, 21 Juli 2011

Wake up, wake up!

sharing from a friend
Cerita tentang seseorang yang bangun tidur dan merenungkan tentang kunci sukses. Jendela kamar bilang, "Lihatlah dunia luar." Langit-langit kamar berkata, "Bercita-citalah setinggi mungkin." Jam dinding berdetak, "Setiap menit itu berharga." Cermin bergumam, "Berkacalah sebelum bertindak." Kalender berbicara, "Jangan menunda sampai besok." Pintu berteriak, "Bukalah hidupmu dengan semangat dan bergeraklah." Tapi yang wajib diperhatikan adalah pesan bijak permadani lantai, "Berlututlah dan berdoalah..."
nothing


Selasa, 19 Juli 2011

Keydo, Mata Air yang Terjaga


wahai burung hitam yang bernyanyi tengah malam
ambillah sayap patah ini, dan belajarlah untuk terbang
sepanjang hidupmu… hanya menunggu saatnya kan tiba

wahai burung hitam yang bernyanyi di tengah malam
ambillah mata cekung ini, dan belajarlah untuk melihat
sepanjang hidupmu kau hanya menunggu saatnya kebebasan kan tiba

terbanglah burung hitam… terbanglah, terbang
ke cahaya hitam di gelapnya  malam

blackbird fly… blackbird fly.
into the light of the dark black night

Kisah Keydo dan Kinang membuat saya termenung sejenak, sesaat dada sesak menahan tetes bening yang ingin menyeruak keluar. Kisah Keydo dan Kinang juga menyentakkan pikiran saya, Ya Rabb…

Keydo membuat saya kembali belajar tentang keputusan hidup terbesar. Bahwa kebahagiaan sejati akan diraih dengan perjuangan tanpa kenal lelah, tanpa kenal henti. Bahwa kebahagiaan sejati hanya akan diraih dengan pijakan iman yang baik. Bahwa penghargaan tanpa batas akan diperoleh ketika sesuatu itu direngkuh dengan perjuangan yang berat.

Bunda Tatty Elmir melalui Keydo seakan ingin berpesan kepada mata air-mata air negeri ini secara tersirat. Keydo adalah putri Padang, mahasiswi kedokteran yang akhlaknya terjaga dengan baik. Kinang, putra Papua, mahasiswa kedokteran pula yang seorang aktivis kampus. Mereka dipertemukan dalam pelayaran Zamrud Khatulistiwa (saya jadi ingat FIM! pastilah ZK ini diibaratkan sebagai FIM :D). Namun bukan tanpa maksud ketika Keydo selalu cuek, ketus, dan tidak mau diajak bicara baik-baik kepada Kinang. Keydo hanya ingin mengetahui seberapa besarkah harga perjuangan Kinang selain tentunya ingin menjaga diri dan hatinya.

Hampir tiga tahun lamanya Keydo bersikap cuek dan ketus kepada Kinang. Surat dan pesan singkat jarang dibalas, telepon tak diangkat. Kalaupun dibalas pun juga singkat, apa adanya. Apabila Kinang bertandang ke rumah kos Keydo, Keydo mengelak dengan pergi ke rumah teman atau kemanapun. Pokoknya tidak mau bertemu Kinang walaupun sebenarnya ia benar-benar ingin.

Namun Kinang tak kehilangan akal, tekadnya sudah serupa baja. Di balik segala kekurangan Keydo, Kinang telah menemukan banyak kelebihan Keydo. Kinang sadar bahwa manusia diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan, keseimbangan semesta. Ia akhirnya memperoleh alamat nenek Keydo di Banjarnegara, dan akhirnya disanalah ia menjalani masa KKN. Tak ayal Kinang dan nenek Keydo sudah sangat akrab ketika Keydo mudik ke Banjarnegara. Mulai dari titik itulah akhirnya Keydo mulai luluh, ia mulai terbuka.

Bukan perjuangan jika tanpa batu sandungan. Sumi, teman Keydo dan Kinang ternyata memiliki perasaan untuk Kinang. Kinang tahu itu, tetapi dia memilih pura-pura tak tahu dan kemudian berkeputusan untuk segera melamar Keydo. Bersamaan dengan itu, Keydo pun tahu perasaan Sumi, api cemburunya muncul dan akhirnya dia bertolak ke Padang dengan kapal laut. Kinang pun menyusul ke Padang bersama papa-mamanya dari Papua dengan pesawat. Praktis, Kinanglah yang terlebih dahulu sampai di Padang. Dan tak berpanjang lebar, berjarak beberapa jam dari kedatangannya Keydo ke Padang, prosesi lamaran dilaksanakan dan lusa dari waktu lamaran akad nikah diputuskan dilaksanakan.

Cerita belum usai karena beberapa pekan kemudian, Keydo dipanggil Sang Pemilik Sejatinya. Memang sad ending. Tetapi cinta Kinang hanya untuk Keydo, Kinang telah berjanji cintanya hanya untuk Keydo. Dan janji itu tetaplah janji, Kinang begitu teguh memegang janjinya. :)

Keydo-Kinang sebenarnya hanyalah secuil kisah dalam novel ini, selebihnya terlukis perjuangan para ‘pahlawan jalan sunyi’, pahlawan yang namanya tidak diabadikan sebagai nama jalan. Pahlawan yang tidak pernah tenar dikenal tetapi dedikasinya kepada masyarakat begitu berarti. Di samping itu novel ini juga bertutur nan menyentil tentang otak kanan dan otak kiri, dinamisasi hidup. Apakah tangan kiri senantiasa buruk? Tidak!

Overall, terkadang saya ingin tertawa. Nama-nama yang bunda Tatty pakai dalam novel ini begitu akrab di telinga saya. Nama-nama yang sering berseliweran di komunitas Forum Indonesia Muda. :D

Solo, 19 Juli 2011 06:38
sampai kapanpun memanglah kanan pasangan sejati kiri. tak pernah ada sesuatu yang bisa disebut bagian kanan, jika tak ada kiri. begitu juga sebaliknya.

[sidekicks]

tak ada yang dapat menukar apa yang telah kita jalani selama ini. sahabat tak akan pernah terganti. sahabat akan selalu menemani, meski jarak dan waktu telah memberi jeda. sahabat… :)

saat kau butuh aku ada
bila ku butuh kau pun ada
berbagi canda dan ceria
suka duka jalani bersama

bersama sahabat yang slalu menemaniku
perbedaan bukanlah menjadi halangan
berjanjilah kita tak akan pernah terpisah
sampai nanti waktu kan berhenti

hari hari yang tlah kita lalui
saling mengerti diantara kita
yang sulit seakan jadi mudah
bila kita tetap setia

bersama sahabat yang selalu menemaniku
perbedaan bukanlah menjadi halangan
berjanjilah kita tak akan pernah terpisah
sampai nanti waktu kan berhenti
[Imajinasi-Bersama Sahabat]
*I hope could hear this one in live performance with you. :)

Solo, 18 Juli 2011 09:30

20 Jam Memotret Semarang

16 Juli 2011 petang kami berangkat menuju kota Semarang. Ya, tanggal 17 Juli 2011 kebetulan Forum Indonesia Muda regional Semarang dan BEM FK Undip akan menyelenggarakan bedah buku Inspiring Wedding from Keydo. ;) Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Berkumpul kembali bersama teman-teman seperjuangan di Forum Indonesia Muda, mengenang kembali kebersamaan singkat, dan tentunya menghirup kembali semangat positifnya.

Semarang merupakan ibukota propinsi Jawa Tengah. Maka wajar saja apabila kota Semarang merupakan kota yang besar dan ramai. Semarang menjadi kota yang beranjak “memetropolitan” dengan daerah industri, pelabuhan, pemukiman yang padat, serta pembangunan infrastruktur yang semakin marak. Semarang terlihat cenderung mirip dengan tata kota ibukota negara, Jakarta. Jalan tol yang memberi warna pada riuhnya suara transportasi. Skyline arsitektural yang cenderung datar namun jauh dari garis tanah. Dan tentu saja pemukiman yang sangat padat (bisa dilihat dari menara pandang Masjid Agung Jawa Tengah), seakan tidak lagi menyisakan ruang lengang lagi untuk pernafasan sang tanah.

Dalam perspektif lain, Semarang menyediakan akomodasi rakyat yang luar biasa. Infrastruktur jalan yang sangat bagus meski pada pusat-pusat keramaian terkadang macet; ketersediaan ruang publik yang memadai dan menunjang kenyamanan masyarakat; serta keberadaan pelabuhan, bandara, stasiun, dan terminal yang menunjang mobilitas secara lebih efektif. Secara garis besar kehidupan di kota ini telah ditunjang oleh sumber daya-sumber daya yang dimilikinya.

Semarang juga menunjukkan multietnis dan multikulturalnya yang baik dengan toleransi-toleransi kebermasyarakatan. Keberadaan Masjid Agung Jawa Tengah, Gereja Blenduk, Vihara (lupa namanya) dengan desain yang menawan nan memesona sungguh menyuguhkan aura yang berbeda ketika berada di spot-spot tersebut. Panorama-panorama kota juga tak kalah indah dengan didukung topografi tanah yang berkontur. Kerlip cahaya kaum urban di lereng-lereng atau bukit-bukit, juga bibir-bibir laut yang menyatu.

Namun patut disayangkan ketika saya merasa tidak bisa lagi melihat langit yang biru. Mungkinkah asap-asap transportasi dan industri telah mengontaminasi atmosfer yang melingkupi Semarang? Transportasi yang merakyat di Semarang rasanya juga sulit ditemui di kota ini. Atau memang ini adalah sebuah kesalahan desain dalam sub masalah pemilihan lokasi ketika Masjid Agung yang dibanggakan itu letaknya kurang strategis? Dan masalah sepanjang masa limpahan air laut ke daratan yang sering dikeluhkan masyarakat Semarang?

Walau bagaimanapun, Semarang masih tetap memesona. Saya ketagihan ke Semarang lagi! :D

Solo, 18 Juli 2011 09:25

Inspiring Wedding from Keydo

sepotong kalimat akhir pesan bunda Tatty Elmir:

…pernikahan adalah silaturahim yang akan melahirkan kebahagiaan. kebahagiaan akan melahirkan energi. energi akan melahirkan sinergi. dan sinergi akan melahirkan keberkahan… meski perjuangan menggapainya memang berat, tetapi bukankah kebahagiaan sejati diperoleh dengan perjuangan yang tanpa henti?

Happy Postcrossing!

:D Inilah dunia baru yang sangat menyenangkan bagi saya. Setelah hampir tujuh tahun mandeg dari dunia per-pos-an karena hilangnya sahabat-sahabat pena. Dan juga setelah era mulai berganti, jasa pos sudah tidak banyak diminati. Inilah Postcrossing.

Postcrossing telah membawa satu impian dalam dreambook saya menjadi kenyataan: punya sahabat dari luar negeri. Melalui postcrossing pula saya kemudian seperti menemukan oase filateli. Sungguh loncatan yang hebat karena saya tidak hanya akan menemukan teman dari seantero nusantara, tetapi juga seantero dunia.

Maka tidak usahlah heran ketika kemudian saya keranjingan berburu kartu pos-kartu pos bergambar budaya, tradisi, maupun alam di nusantara ini serta kecanduan mengantri di loket pengiriman pos. Tak hanya itu, jika kemarin-kemarin saya sering mengamati peta-peta pulau-pulau di Indonesia, maka sekarang saya pun mulai gemar menelusuri letak negara-negara di dunia sambil membayangkan kartu pos yang saya kirimkan terbang menuju negara tujuan.

picture from here

Beberapa minggu kemudian saya pasti akan berharap-harap ada kartu pos yang mampir di tangan saya dengan gambar-gambar unik nan menarik. Membayangkan kapan saya akan menyambangi negara tersebut lalu mengirimkan kartu pos dari sana untuk teman-teman di Indonesia, seperti yang dilakukan dua bule yang tadi saya lihat di kantor pos. Dua bule itu akan mengirimkan kurang lebih tiga belas kartu pos untuk teman-temannya –mungkin—di Holland. Aih, tujuan kartu pos kita sama, batinku. Ya, akhirnya sore tadi saya berkesempatan untuk mengirimkan tiga kartu pos menuju Netherland (Holland), Finland, dan Italy. Yes! :)

Sleman, 15 Juli 2011 21:37

Balada Si Roy-Bandel

picture taken from here
Siapa rindu kebebasan, ceburilah kabut dalam tekad peleburan. Apa yang tanpa wujud senantiasa mencari bentuk, tak beda dengan jutaan bintang yang menjelma jadi matahari-matahari dan bulan-bulan; dan kita para pencari, yang pulang dalam wujud ini, sesosok zat padat, sekali nanti larut dalam kabut lagi, dan menghayati kehidupan dari asal kejadian. Dan, apa yang bisa bangkit membumbung angkasa, tanpa terbelah pecah dalam gairah hidup dan kebebasan?
          -Taman Sang Nabi, Kahlil Gibran.


Akhirnya saya berhasil menyelesaikan petualangan bersama si bandel Roy via serial Balada si Roy karya maestro sastra dari Banten, Gola Gong. Sudah sejak kurang lebih Sembilan tahun yang lalu saya mulai membaca karya-karya Gola Gong. Karya pertamanya yang saya baca adalah trilogi PadaMu Aku Bersimpuh. Kala itu novel ini turut disinetronkan pada bulan Ramadhan di sebuah televisi swasta. Berikutnya saya mulai membaca cerpen-cerpennya yang tersebar di berbagai media.

Sebenarnya rampai kisah si Roy ini saya baca melalui naskah elektroniknya dan tidak secara utuh. Balada si Roy terdiri dari sepuluh serial dan serial ke sembilan tidak saya temukan. Praktis tentu saja ada babak yang hilang dan tidak tahu apa yang terjadi pada jeda antara serial ke delapan dan sepuluh. Tetapi secara keseluruhan cukuplah satu kesimpulan tentang remaja Roy ini: bandel!

Roy, siswa sekolah menengah atas di Banten yang tidak punya niat jadi siswa. Sekolahnya dikorbankan demi keinginan avonturirnya. Mamanya yang kemudian sakit pun tidak digubrisnya. Roy tetap melangkah, meninggalkan mamanya yang sakit-sakitan. Ego yang dimilikinya memang tinggi, pikirannya cuma satu: avoturir. Avonturir itupun mungkin bukan tanpa sebab. Dengan beravonturir, Roy yang juga pengarang cerita bersambung di sebuah majalah mendapatkan materi cerita. Apa yang terjadi pada Roy, itulah cerita yang dimuat. Dari pemuatan cerita, ia dapat honor, dan dia tak perlulah menyusahkan mamanya.

Lelaki dimiliki wanita, tapi dia memiliki semua. Dia harus pergi, tapi juga harus pulang, karena ada yang dikasihi dan mengasihi. Ya, lelaki memang harus pergi, tapi juga harus pulang.
          -Heri H Harris

Balada si Roy ini benar-benar laiknya novel dengan dua warna, positif dan negatif. Darinya saya belajar bahwa ego itu seharusnya tidak selamanya dimenangkan, namun ada kalanya pula ego memang harus dimenangkan, tergantung situasi dan kondisi. Ya, pandai-pandai sajalah mengatur prioritas. Ending novel ini sebenarnya membuat saya cukup tersentak, Roy bandel pulang avonturir hanya menjumpai pusara mamanya… Tapi memang itulah jalan yang telah dipilih Roy, itulah konsekuensi yang harus diterimanya pula. Setiap langkah pasti ada resikonya, dan kita harus berani menghadapinya.

Seorang lelaki harus berani mengusir ketakutan. Ketakutan untuk berbuat salah. Ketakutan untuk berbicara salah. Dan seorang perempuan harus berani memiliki jiwa lelaki. Berani mendampingi gelisah lelaki. Berani untuk tidak takut kehilangan lelaki. 
-Heri H Harris

Dan akhirnya kisah ini mengisyaratkan kepada saya untuk tidak henti-hentinya bermimpi. Tentang apa saja.

Aku memimpikan rumah. Di atas bukit. Pohon rimbun. Sawah. Gunung. Sungai.Bebatuan. Tawa anak gembala di punggung kerbau. Main lumpur. Alamku. Mimpiku. Aku memimpikan rumah. Di atas bukit. Bunga-bunga. Kasih. Belaian. Harapan. Alamku. Mimpi-mimpiku. 
          -Heri H Harris

Sleman, 15 Juli 2011 21:24
*semua lelaki sebaiknya membaca serial novel ini :D :P

Selasa, 12 Juli 2011

=)

Just sharing for a while from a friend:

“Bila belum siap melangkah lebih lanjut dengan seseorang, cukup cintai dia dalam diam. Karena diammu adalah bukti cintamu padanya. Kamu ingin memuliakan dia dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan terlarang; kamu tidak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya. Karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu. Menghindarkan hal-hal yang akan merusak izzah iffahmu. Karena diammu adalah bukti kesetiaanmu padanya. Karena mungkin saja orang yang kamu cintai adalah orang yang telah Allah pilihkan untukmu.

Ingatkah kalian pada kisah Fatimah dan Ali? Yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan tetapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan yang suci dan indah.

Jika dia memang bukan milikmu, toh Allah melalui waktu akan menghapus cinta dalam diammu itu.”

Wallahu’alam.

Bye Bye Facebook

picture by auliavy

lepas dari keseharian kumasuki sisi hidup yang lain. pada mulanya sempat meragu aku tetapi kesadaran tentang jalan yang tak mesti selalu lempeng mengantarku sampai pada pengertian bahwa pencarian setiap orang senantiasa dalam warna berbeda. (Toto ST Radik)

Firstly I wanna say, “I’m sorry, Mark Zuckenberg…”

Ini adalah sebuah pergulatan batin yang berat. Di sana saya menemukan salah satu jendela dunia. Tetapi terkadang memang ada hal-hal yang harus dimenangkan dan dikalahkan meskipun itu sama-sama penting, seperti kata dosen pembimbing studio perancangan 7 satu semester yang lalu. Kini, ada hal-hal yang tidak bisa saya tolerir bagi diri saya lagi. Kehidupan di ruang maya bernama Facebook bagi saya –dalam akun pribadi saya tentunya—sudah tidak sehat lagi. Terlalu banyak permainan yang melibatkan berbagai intrik dan taktik. Dunia maya dan dunia nyata memang berbeda, dan pada akhirnya menurut saya kepercayaan yang dimunculkan melalui situs jejaring sosial ini bukanlah kepercayaan yang dapat dipercaya.

Jejaring sosial itu hanya tempat untuk sekedar melampiaskan pikiran-pikiran yang tak tersampaikan, ruang untuk melampiaskan emosi yang tak tersalurkan demi mengejar eksistensi pribadi. Saya bukan selebritas yang mengejar popularitas. Efektifitas publisitas dan pengkaryaan diri melalui fitur foto dan catatan saya akui dengan dua acungan jempol. Tapi kedua hal tersebut kini harus dikalahkan dulu. Saya memutuskan menarik diri dari publik maya, meninggalkan hingar bingar dunia dengan menonaktifkan akun pribadi saya dalam jangka waktu yang tidak pasti. Mungkin selamanya, mungkin akan banyak kerinduan dengan situs itu…

Sudah saatnya saya mencari ruang yang lain lagi untuk aktivitas beravontur di dunia maya. Saya banyak terinspirasi oleh catatan-catatan sederhana kakak tingkat saya, Mbak Sekar, melalui blognya “ladder to the sun”. My Philately dan Postcrossing adalah dua laman yang ingin saya jelajahi setelah saya membaca salah satu postingan di ladder to the sun. Sebelumnya saya sempat mendaftar di akun Flickr dan Goodreads meskipun belum terlalu aktif di kedua laman tersebut. Saya pikir keempat situs tersebut akan sangat mewakili dan menjadi sarana pelampiasan saya yang lebih efektif.

Sekian tahun saya menjalani hobi yang diwariskan ibu sebagai kolektor perangko. Kemudian iseng saya mulai pula mengumpulkan kartu-kartu pos. Hobi ini memang langka di masa ini, di tengah kemodernan teknologi yang kian menggila. Tetapi saya masih menyukainya. Fotografi dan membaca juga merupakan komponen yang cukup penting dalam perjalanan hidup saya. Saya suka fotografi kesunyian dimana objek yang dibidik adalah objek tanpa model bernama manusia. Kalaupun ada manusia, sebatas dalam batas naturalisme saja. Dan tentunya saya mencintai membaca. Membaca apa saja. Karena saya tidak akan pernah bisa menulis tanpa membaca, dan sebaliknya.

Akhirnya laman yang akan sangat sering saya kunjungi kemudian adalah laman ini. Di mana saya tidak lagi memerlukan pengakuan, apresiasi, dan popularitas atas tulisan-tulisan saya dengan cara ‘memaksa’ (tagging—istilah yang saya maksud) untuk sebuah eksistensi. Biarlah segala sesuatunya berjalan apa adanya. Semoga ini merupakan cara saya untuk lebih mendewasakan diri. =)

Sleman, 12 Juli 2011 09:00

Solo International Performing Art 2011

Ini dia hajatan besar pemerintah kota Surakarta di bulan Juli 2011 yang telah saya tunggu-tunggu. Setelah sepekan yang lalu pemerintah kota Surakarta menyelenggarakan Solo Batik Carnival, kini giliran gelaran pentas seni internasional. Acara ini digelar pada 1-3 Juli 2011 malam hari pukul 19.00-23.00. Berbagai duta dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara turut serta dalam even ini, yaitu: Korea, Didik Nini Thowok (Jogja), Sanggar Seni Al Ashri (Makassar), Janis Branner (USA), Pontianak, Jakarta, Thailand, Teater Aron (Medan), Jawaharlal Nehru (India), I Nyoman Sura (Bali), Saung Udjo (Bandung), Malaysia, Cirebon, Belanda, Meksiko, dan Solo.

Sayangnya saya hanya berkesempatan menikmati penampilan sedikit dari Bandung di detik-detik terakhir hari kedua. Kemudian di hari ketiga sekaligus hari terakhir, saya dating lebih awal dan beruntung bisa menikmati performansi delegasi Belanda, Meksiko, dan Solo.

Delegasi Belanda mempertunjukkan tarian teatrikal dengan makna kurang lebih bahwa “keberagaman seni, budaya, dan tradisi bukanlah sesuatu yang dapat memicu permusuhan, melainkan keberagaman tersebut seharusnya menjadi poin untuk saling mendukung dan menghargai perbedaan yang ada.” Kostum putih-putih dan gerakan tarian yang tangkas dan gesit cukup menakjubkan meskipun lama-lama membosankan, karena beberapa gerakan yang sama diulang-ulang. Pada akhir pertunjukan munculah sosok dengan kostum berbeda –batik—yang menyimbolkan perbedaan yang ada. Dari momen itulah konflik memuncak dan akhirnya tiba di epilognya.

Berbeda dengan delegasi Belanda, Delegasi Meksiko menampilkan tari-tarian khas Meksiko lengkap dengan lagu-lagunya. Pada lagu La Bamba –siapa sih yang tidak tahu lagu ini— beberapa penonton dipersilakan naik ke atas panggung untuk menari dan menyanyi bersama. Dengan bendera merah putih di tangan, mereka berputar-putar kemudian sejenak berhenti untuk menarikan gerakan kaki cepat, dan berputar lagi. Tampak sekali rasa penghargaan dan humanisme di sini.

Dan yang paling mengesankan adalah performansi sang tuan rumah, Solo. Kombinasi antara nyanyian, tarian, teatrikal, dan pedhalangan berbaur menjadi satu. Durasi waktu yang lebih lama memaksimalkan performansi mereka. Dentuman musik modern yang mengiringi lagu-lagu tradisional –seperti Cublak-Cublak Suweng dan Gambang Suling— pertunjukan dhalang cilik wanita serta minidrama bocah-bocah memberi sensasi baru pada pertunjukan tradisional Jawa. Mengesankan!

Setelah performansi Solo berakhir, maka upacara penutupan SIPA dimulai. Walikota Surakarta, Joko Widodo, memukul gong. Tepat setelah itu luncuran bunga-bunga api ke angkasa dimulai dan memekarkan cahaya-cahaya yang mengagumkan.

Wow, it’s such a great night!

*sayangnya saya selalu mendapat tempat di belakang sehingga terlalu jauh untuk membidikkan lensa kamera.