Minggu, 29 Mei 2011

Dream Comes True =)

mimpi itu akhirnya datang juga. semangkuk pasir pantai Senggigi. dan separuh cangkang kerang putih. pasir pantai pertama yang kudapatkan.

I Not Stupid Too

Allah menciptakan sesuatu itu sudah diperhitungkan. Allah memberikan kekurangan pasti dengan disertai kelebihan yang luar biasa.
[Fatonah, Ibunda Luthfi Mu’awan (penemu pengawet ikan dari daun teh)]

Saat ini saya sedang menonton suatu acara di layar persegi. Suguhan yang sangat mempesona: mahasiswa, pelajar yang memiliki prestasi luar biasa. Salah satunya Luthfi Mu’awan, pelajar tingkat akhir sebuah sekolah menengah atas di Banjarnegara. Ia telah menorehkan prestasi dengan menemukan pengawet ikan dari daun teh. Namun di balik keberhasilannya itu, ternyata terdapat kekurangan pada tubuhnya…tangannya cacat. Subhanallah… kekurangan itu tidak menjadikan dirinya mundur atau menutup diri. Kekuatan untuk maju dan berprestasi justru membara, dengan dukungan penuh kekuatan seorang ibu.

Hal itu kemudian mengingatkan saya pada sebuah film produksi Singapura berjudul I Not Stupid Too. Film ini mengisahkan tentang dua buah keluarga yang berantakan. Keluarga pertama terdiri dari ayah dan ibu yang super-sibuk, beserta dua anak yang terabaikan dan kemudian ‘hancur’. Keluarga kedua terdiri dari seorang ayah yang mantan narapidana beserta seorang anak yang merupakan teman sekelas salah satu anak dari keluarga pertama. Kedua anak yang satu kelas tersebut suka sekali membuat onar di sekolah, hingga berulangkali berujung dipanggilnya orang tua. Puncaknya saat mereka masing-masing dihukum cambuk dan dikeluarkan dari sekolah.

Orang tua pertama yang super-sibuk benar-benar kurang menghargai anak-anaknya. Apa-apa yang dilakukan selalu dipandang salah, bahkan prestasi non akademik yang luar biasa pun dianggap tidak membanggakan. Orang tua kedua yang mantan narapidana memiliki sifat keras dalam mendidik, sehingga anaknya pun menjadi bersifat keras serta suka membantah.

Endingnya cukup mengharukan. Ketika kemudian orang tua-orang tua tersebut menyadari kesalahan masing-masing. Si ibu yang berhenti bekerja, disusul sang ayah. Namun sad ending juga menyertai kisah ini, bapak yang mantan narapidana itu meninggal ketika membela anaknya dan kemudian terjatuh tersungkur dari tangga plaza.

I couldn’t forget Jerry’s sentence: Do you know the mean of this word? (he holds a paper, written there ‘FAMILY’ word). Below the FAMILY word, written that FAMILY is Father and Mother, I Love You. =) So sweet, isn’t it?

picture taken from here

Lalu saya mencoba menyimpulkan pesan keseluruhan dari film tersebut, yaitu:

Lihatlah kelebihan mereka, dan bukan lihat kekurangan mereka. Itulah kebijakan yang paling bijak.

Sleman, 27 Mei 2011

Di bawah gemintang sejuta bintang.

Tepat lima tahun yang lalu tanah ini bergoyang.

Karena Allah? Yakinkah Kau dengan Ucapanmu?

picture taken from here

Pasca menekuri salah satu karya Asma Nadia –-kumcernya lah yang pertama kali bunda perkenalkan padaku satu dekade silam--, saya tiba-tiba tersadar dengan kalimat-kalimat berujung dua kata: karena Allah. Kalimat-kalimat dengan pemanis dua-kata itu sudah sangat jamak di indera pendengaran dan penglihatan saya.

…karena Allah…

Apa sesungguhnya makna dua kata itu sehingga kita bisa dengan sangat sering dan sederhana bisa mengatakannya. Apakah kita sesungguhnya telah mengerti –rasanya tak cukup mengerti, mengingat nama Ia Yang Maha Segalanya pun turut serta-, apakah kita sesungguhnya telah memahami esensi dua-kata tersebut sehingga dengan mudahnya bisa menjelmakan ia dalam tutur kata, baik secara oral, auditori, maupun visual?

Saya pernah mendiskusikan hal tersebut dengan seorang sahabat. Menurutnya, “karena Allah” berarti kita melaksanakan kata kerja yang mendahului dua-kata tersebut benar-benar karena Allah, tidak ada tendensi selainNya. Lalu apakah kita berhak protes ketika kemudian menemukan sesuatu apapun yang tidak berkenan dalam lingkup lingkaran kata kerja tersebut? Karena Allah, berarti kita menerima apapun yang terjadi secara ikhlas sungguh karena semua itu milik Allah. Apabila kita tidak berkenan dengan sesuatu dalam lingkup kata kerja dan dua-kata itu, maka ketidak-berkenan-nya kita itu ‘naik derajat’ ke hadapan Allah. Allah yang menciptakan semua itu, dan kita tidak berkenan…

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

*sedang sangat mempertanyakan makna dan esensi dua-kata itu. Allah, maafkan aku jika telah salah menempatkan asmaMu…

When I …

picture taken from here

Ketika kamu melihat aku jarang marah, maka janganlah heran. Karena aku merasa bahwa ayah dan ibuku tidak pernah mengajarkanku cara untuk marah. (meski ada kadar toleransi tertentu)

Ketika kamu melihat aku jarang mengkritik, maka janganlah heran. Karena aku merasa tidak pernah dibesarkan di bawah kritikan. (meski ada kadar toleransi tertentu)

Ketika kamu melihat aku sering mengatakan ‘terserah’, maka janganlah heran. Karena aku dibiasakan menerima apapun dengan tangan terbuka. (meski ada kadar toleransi tertentu)

Ketika kamu melihat aku begitu simpel dalam hal menu makan, refreshing, atau apapun dalam hidupku. Ya itulah, yang aku pelajari selama ini.

Dan ketika-ketika yang lain, itu adalah kepercayaan yang begitu besar, kebijaksanaan yang begitu agung, dan kasih sayang yang tiada batas dari orang tuaku.

I proud, very proud to be their daughter… but a quest no one never knows: are they proud having me as their daughter?

Sleman, 27 Mei 2011

Ketika terpisah jarak dengan bunda sekian ratus kilometer… miss you, mom…

Jumat, 27 Mei 2011

Cukuplah Segenggam Pasir Pantai dari Pulau Seberang

entah kenapa setiap kali ada keluarga, teman, atau sesiapapun yang berpamitan kepada saya untuk pergi dan mengunjungi pantai, bersitan keinginan saya tentang buah tangan hanyalah: segenggam pasir pantai. inspirasi ini muncul ketika sekian tahun lalu saya melihat di layar persegi, seorang ibu mengoleksi pasir-pasir pantai dari berbagai pantai yang pernah ia kunjungi. maka, ketika kemudian saya beberapa kali membeli minuman yang berbotol kaca, saya pun mengumpulkannya. beberapa kali dikomentari siapa-siapa yang pernah singgah ke kotak kecil saya. dan...whatever... saya sudah memiliki rencana tersendiri dengan botol-botol kaca kecil itu. that's: pasir pantai...=)

picture taken from here

PS: mom, i just wanna the coastal sand of Kuta Lombok Beach and Lovina Beach...

Rabu, 25 Mei 2011

Bilakah Hujan Bulan Juni Tiba?

taken from here

Hujan Bulan Juni


tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu ....

--Sapardi Djoko Damono--


Jumat, 20 Mei 2011

Aku Ingin Angsa Putih di Telaga Itu...

entah kapan tepatnya terakhir kali di rumah kami ada angsa... tiga ekor angsa dengan leher yang jenjang-jenjang, terkadang menjulur-julurkan paruhnya kala ada yang mengusik keasyikannya...

picture taken from here

"angsa adalah salah satu makhluk yang anggun di mataku..." =)

Hotel Anti Kiamat?

Sebenarnya saya hanya penasaran dengan pesan singkat teman semasa masih di bangku sekolah menengah atas. Dia bercerita tentang hotel anti kiamat di Moskow, Rusia. Iseng kemudian googling deh...
Hotel ini merupakan hotel anti kiamat yang pertama di dunia. Hotel ini memiliki disain menyerupai kerang. Selain itu, struktur bawah tanahnya berbentuk tempurung, tanpa tepian atau sudut. Strukturnya tahan gempa dan dapat mengapung di perairan luas seperti laut, sehingga terlindung dari luapan air atau banjir. Hotel ini pun bisa berdiri di daerah berbahaya. Hotel raksasa yang mengambang ini diklaim juga sebagai ‘biosfer’, surga yang nyaman bagi para penghuninya, bahkan saat bencana sekalipun.

Pernah dengar kisah Nabi Nuh? yang membuat kapal selamat dari banjir besar yang terjadi di seluruh dunia? Dan inilah wujud modern dari ide kapal Nabi Nuh itu. Tapi, ini baru rancangan saja. Pemilik dari desain hotel ini masih menunggu investor yang mau mewujudkan impian hotel anti kiamat ini menjadi kenyataan .

Menghadapi anacaman Global Warming atau yang sering kita sebut dengan pemanasan global, saat ketinggian air naik menenggelamkan seluruh planet Bumi, inilah ide untuk menyelamatkan diri. Inspirasi ini pertama kali dikemukakan oleh perusahan arsitektur, Rusia, Remistudio.

Dalam program arsitektur penanggulangan bencana International Union of Architects, Remistudio merancang sebuah hotel yang bisa berperan sebagai bahtera penyelamat, kalau-kalau bencana dahsyat terjadi. Namanya, Ark Hotel. Bisa didirikan di laut atau pun di darat.

Konsep yang ramah lingkungan serta mendukung adanya udara di dalam horel ini . Setidaknya seperti dikutip oleh perusahan arsitek Rusia itu. Desain hotel futuristik ini menggunakan panel matahari dan instalasi pengumpul air hujan, menjamin ketersediaan energi, juga air bagi para penghuninya. Menikmati aurora borealis. Lingkungan yang mirip rumah kaca juga memungkinkan tanaman tumbuh subur, membantu meningkatkan kualitas udara dan juga menyediakan makanan.

Selain itu, strukturnya yang tembus pandang membuatnya hemat energi di siang hari. Cukup memanfaatkan energi matahari. Untuk memastikan kualitas cahaya, bingkai kaca dilengkapi pembersih otomatis. Menurut Alexander Remizov dari Remistudio, ada dua pertimbangan utama dalam desain ini.

Seperti dapat dilihat di gambar. Kira-kira inilah contoh hotel anti kiamat yang pertama di dunia itu . “Pertama, meningkatkan pengamanan dan pencegahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim dan perubahan iklim. Yang kedua adalah melindungi lingkungan alam dari aktivitas manusia,” kata dia, seperti dimuat Daily Mail. Inilah penyebab bintang tampak berkedip.Bahtera ini juga dimaksudkan untuk menjawab tantangan lingkungan global saat ini. Juga untuk mendukung sistem pertahanan hidup.

“Semua tanaman dipilih yang sesuai, efisiensi pencahayaan, dan produksi oksigen. Juga bertujuan untuk menciptakan ruang yang menarik dan nyaman,” kata dia. Remizov menambahkan, atap hotel yang transparan menjamin ada cukup cahaya bagi tanaman dan untuk menerangi interior.

Perancangnya mengklaim, Ark Hotel bisa didirikan hanya dalam waktu beberapa bulan di seluruh bagian dunia. “Bagian-bagiannya bisa disatukan dalam waktu tiga sampai empat bulan,” kata Remizov.

Kiamat memang tidak bisa kita hindari sebagai orang yang beragama . Lepas apakah kita bisa mkenyelamatkan diri atau tidak dari kiamat, konsep ini sangat bermanfaat untuk menanggulangi masalah gempa dan pemanasan global yang mengakibatkan banjirnya seluruh dunia.

dikutip dari sini dengan beberapa perbaikan tata bahasa

Kamis, 19 Mei 2011

Kita Pun Mengerti, Tiba Tiba...

sejenak merindu hujan datang sore ini...

picture taken from here

dan mendengar musikalisasi kata-kata Sapardi Djoko Damono ini...

HUJAN TURUN SEPANJANG JALAN

hujan turun sepanjang jalan
hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan
kembali bernama sunyi
kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali

tak ada yang menolaknya. kita pun mengerti, tiba-tiba
atas pesan yang rahasia
tatkala angin basah tak ada bermuat debu
tatkala tak ada yang merasa diburu-buru

1967


aku suka hujan
aku suka hujan-hujanan tapi tidak suka kehujanan...


Nora Srakah Lamun Narima ing Pandum ala Manusia Jawa



“Orang Jawa tidak membedakan dengan jelas antara alam dunia kodrati dan alam adikodrati. Mereka tidak menguasai lingkungannya dan waktu, serta menerima kenyataan hidup sebagai suatu hal yang tidak bisa dirubah. Mereka menerima bahwa lingkungan itu seperti juga alam semesta, merupakan kekuasaan yang lebih tinggi darinya, sehingga lebih baik menyerah saja padanya.

-Neils Mulder, “Kepribadian Jawa dalam Pembangunan Nasional”. UGM Press, Yogyakarta, 1986.

picture from here

Kata-kata yang kubaca dalam salah satu halaman novel Atap-nya Fira Basuki itu kemudian mengingatkanku pada filosofi masyarakat arkhais Jawa: nora srakah lamun narima ing pandum. Ya, yang kurang lebih artinya menyerah saja pada keadaan...

Dalam Transformasi Nilai-Nilai Mistik dan Simbolik dalam Ekspresi Arsitektur Rumah Tradisional Jawa, Ir Arya Ronald menuliskan:

“Masyarakat Jawa terbentuk dari pribadi Jawa dan keluarga Jawa yang secara umum telah menyadari bahwa dirinya hidup berada di antara empat kekuatan. Empat kekuatan tersebut digambarkan dalam empat arah, dan dari tiap pasang yang berseberangan dapat dibuat garis penghubung. Pada perpotongan kedua garis itulah terletak kedudukan manusia Jawa. Pada garis horizontal dia berada di antara kekuatan manusia hidup dan kekuatan roh manusia, sedangkan pada garis vertical dia berada diantara kekuatan Tuhan (Allah SWT) dan kekuatan alam.

Kekuatan Tuhan dianggap sebagai kekuatan spiritual yang tiada tandingannya. Roh manusia adalah kekuatan gaib yang tidak diketahui kenyataannya. Alam adalah kekuatan makrokosmos yang tidak mudah diukur secara tuntas. Manusia hidup adalah kekuatan mikrokosmos yang tidah mudah diukur kemampuannya.”

Mungkinkah budaya narimo ing pandum itu bertitik tolak dari keberadaan manusia Jawa pada perpotongan keempat kekuatan besar tersebut? Ya, kekuatan-kekuatan itu memang tidak dapat dilihat, tidak dapat diukur, tidak dapat diperkirakan, katakanlah KEKUATAN GAIB. Manusia Jawa tidak mampu melawan kekuatan-kekuatan tersebut? Sebenarnya bukankah itu tidak hanya berlaku bagi manusia Jawa? Toh kekuatan Tuhan dan alam itu berlaku bagi semua makhluk hidup...juga kekuatan manusia hidup. Sedangkan kekuatan roh manusia? Wallahu’alam... (percaya nggak percaya-red)

Lebih lanjut Ir Arya Ronald menuliskan bahwa tujuan hidup manusia Jawa tidak semata-mata hanya memenuhi tuntutan hidup dalam arti kata kebendaan atau materi. Manusia Jawa juga berusaha memenuhi tuntutan kebutuhan rohaniah demi mendapatkan perasaan hidup yang tenteram. Tuntutan kebendaan hanyalah memberikan ketenangan hidup yang berlangsung sementara, sedangkan ketenteraman dapat diharapkan berlangsung lebih lama, sepanjang masa. Oleh karena itulah kegiatan spiritual dan ritual menjadi bagian besar dari kehidupan manusia Jawa.

Kekuatan-kekuatan itu kemudian melahirkan kegiatan spiritual dan ritual bagi kehidupan manusia Jawa? Bahwa manusia Jawa kemudian menghormati keempat kekuatan tersebut?

*my unpredictable breakfast: arsitektur jawa lanjut =)) takjub!

Rabu, 18 Mei 2011

CIFOR student search! *tat makes me confused...=(

Ngecek email, dan menemukan surat elektronik ini, yang kemudian membuatku bingung. =) antara studio akhir dan research... So? Ke manakah pilihanku akan berlabuh?

Kesempatan Magang Penelitian

CIFOR (Center for International Forestry Research) adalah sebuah organisasi nirlaba internasional di bawah naungan CGIAR (Consultative Group for Agricultural Research). CIFOR beroperasi di Indonesia berdasarkan surat Keputusan Presiden No. 71 tahun 1993 dan surat perjanjian kerjasama yang ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia pada tanggal 15 Mei 1993. CIFOR berkantor pusat di Bogor, Indonesia. Salah satu kegiatan penelitian CIFOR adalah “studi komparatif global mengenai REDD+ (reducing emissions from deforestation and forest degradation)”. Tujuan dari kegiatan ini adalah menyerap pelajaran yang didapat dari berbagai negara, untuk menyediakan informasi bagi para pembuat kebijakan, praktisi dan penyandang dana terkait.

Kami sedang mencari tiga mahasiswa berbakat untuk bergabung dalam kegiatan penelitian kami di dalam suatu proyek REDD di lahan gambut eks-PLG di Kalimantan Tengah. Penelitian multidisipliner ini bertujuan untuk memahami fenomena kebakaran gambut dan penyebabnya dari sisi budaya, sosial ekonomi dan biofisika/ekologi. Mahasiswa yang terpilih akan mengadakan penelitian lapangan dengan tim kami selama ± 2 bulan di musim kemarau 2011 (sekitar bulan Agustus – Oktober).

Mahasiswa yang terpilih akan menerima

  • Anggaran penelitian lapangan. Jumlah anggaran berdasarkan kebutuhan penelitian masing-masing
  • Biaya hidup di lapangan (akomodasi + makan di rumah penduduk, transportasi PP dari/ke kota asal universitas masing-masing , uang saku Rp 700,000/bulan dan asuransi kesehatan)
  • Masukan untuk penulisan proposal penelitian dan skripsi, beserta bimbingan di lapangan dari peneliti CIFOR
  • Bimbingan untuk menghasilkan artikel jurnal dan presentasi ilmiah
  • Pengalaman kerja di lembaga riset internasional
  • Presentasi ilmiah di kantor pusat CIFOR di Bogor yang dibiayai oleh CIFOR

Prasyarat utama

  • Mahasiswa S1/S2 yang sudah memenuhi prasyarat kuliah untuk memulai penelitian untuk skripsi/tesisnya pada saat kegiatan
  • Bersedia memulai penelitian di lapangan pada waktu yang ditentukan (sekitar Agustus atau September)
  • Mempunyai IPK minimal 2.75
  • Mempunyai minat yang kuat untuk melakukan penelitian berkaitan dengan kebakaran gambut, dan menghasilkan skripsi/tesis yang berkualitas tinggi
  • Siap bekerja di lapangan terus-menerus selama minimal 2 bulan dalam kondisi minim dan tempat bekerja yang tidak nyaman.
  • Mempunyai etos kerja tinggi, bisa bekerja mandiri, dan berpikir kritis

Nilai tambah

  • Mengerti adat-istiadat dan bahasa Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah
  • Mempunyai pengalaman kerja lapangan, baik untuk penelitian atau dalam kapasitas kerja lainnya
  • Lancar berbahasa Inggris

Tanggung jawab

  • Pada saat di lapangan, bersedia menghormati adat-istiadat masyarakat lokal dan bisa menyesuaikan diri dengan norma sosial masyarakat setempat
  • Menulis rencana kerja penelitian yang disepakati peneliti CIFOR, mahasiswa dan dosen pembimbingnya sebelum penelitian dilakukan
  • Melaksanakan penelitian di lapangan sesuai dengan rencana kerja di atas
  • Memberikan laporan kegiatan dan keuangan seusai kerja lapangan dalam waktu 1 bulan setelah penelitian lapangan
  • Memberikan presentasi ilmiah di kampus CIFOR di Bogor dalam waktu 6 bulan setelah penelitian lapangan

Mahasiswa yang berminat harus mengirimkan dokumen-dokumen berikut:

  • Surat pengantar dari mahasiswa yang menyatakan minat, bakat dan kemampuan penelitian
  • CV
  • Ringkasan proposal penelitian, yang terdiri dari 3 bagian:
    • Deskripsi penelitian dan motivasi (kenapa penelitian ini penting dan menarik?) – 1 atau 2 halaman
    • Perkiraan timeline/jadwal kerja selama di lapangan
    • Anggaran penelitian (alat-alat, jasa guide, transportasi, dll)

Deadline pengiriman: 29 Mei 2011
Dikirim melalui email kepada:
Stibniati S. Atmadja, PhD,
Email: s.atmadja@cgiar.org
Subject email: CIFOR student search

CIFOR is an equal opportunity employer.
Staff diversity contributes to excellence.

Senin, 16 Mei 2011

Ingin Berkarya Hingga Nafas Terakhir



Keyakinan ini masih tidak akan goyah.
karena aku tidak boleh mudah goyah.

Maka...

This is what i'm...

"Bagi seorang arsitek, sarana publikasinya adalah karyanya itu sendiri."
Baskoro Tedjo


PS: terimakasih atas kepercayaannya... i'll do my best...=)

seperti halnya yang didengung-dengungkan para penulis profesional: mari menulis, agar kelak saat menutup nafas, ada jejak yang kita tinggalkan. agar tak sekedar nama yang kita tinggalkan untuk dunia.

dan itu tidak hanya berlaku bagi penulis kan? arsitek juga kan? =)

Puncak Suroloyo, Perjuangan Menaklukkan Diri Sendiri

Yogyakarta, 15 Mei 2011

Pagi itu perjalanan menuju Puncak Suroloyo dimulai. Puncak ini berada di kawasan Kalibawang, Kulon Progo; termasuk pada deretan Pegunungan Menoreh. Pegunungan Menoreh biasanya hanya bisa kulihat di kejauhan dari jalan meuju istana ayah ibuku.

Tapi kali ini keyakinan ini lebih kuat. Aku ingin menaklukkan diriku untuk mencapai puncak itu. Well, jalan yang kulalui merupakan medan yang benar-benar berbeda. Meskipun sudah berulang kali aku pergi ke tanah-tanah ketinggian, aku masih merasa medan ini benar-benar tidak biasa. Tidak seperti medan ke kawasan Candi Sukuh-Cetho di lereng Lawu yang menurutku adalah medan paling terjal pada waktu sebelumnya. Pun tidak seperti medan menuju Desa Segoro Gunung, dimana aku dan kawan-kawan BEM FT UNS pernah mengadakan upgrading. Tidak pula seperti Cemoro Sewu, salah satu titik awal pendakian Lawu atau kawasan Ketep-Kedungkayang di Magelang.

Medan ini benar-benar menantang! Jalanan sempit, hanya cukup dilalui dua mobil yang berjalan pelan-pelan (sudah ditambah "trotoar" jalannya). Kanan kiri jurang menganga seakan siap melahap apa-apa yang melintas di lehernya. Suasana sepi, kanan kiri kebanyakan ladang dengan rumah-rumah yang jaraknya jarang. Beberapa tebing sempat longsor, hingga jalanan menjadi licin dan harus turun dari kendaraan (terimakasih bapak yang udah nolong menyelamatkan dari licinnya jalan bekas longsor =)). Beberapa jalan juga ditutup karena tanah yang longsor belum disingkirkan. Mmm... jalan kecil itu juga banyak yang berlubang disana-sini. Kerikil-kerikil aspal sudah terlepas, kalau tidak hati-hati... entahlah akibatnya. Yang tak terlupakan adalah penduduk yang ramah-ramah. =)

Adrenalin benar-benar terpacu. Napas tertahan. Hembusan napas jadi terasa lebih teratur. Mungkin inilah yang kurasakan saat menuju tanah-tanah yang tinggi: berlatih menahan emosi, mengatur diri pribadi, memanajemen empat nafsu yang dimiliki makhluk bernama manusia.

Perjuangan itu akhirnya menemui titik akhirnya. Tanah-tanah yang tinggi benar-benar menunjukkan kekuasannya. Bahwa manusia bukanlah apa-apa. Bahwa perjuangan itu tidaklah bersifat instan, semua ada prosesnya.

Haruskah kita menyerah begitu saja? Itu yang kupikirkan saat menaiki tangga meuju gardu pandang tertinggi, yang (kuhitung) berjumlah 290 buah anak tangga. Tidak, menyerah bukanlah solusi terbaik. Rehat sejenak bolehlah, tapi menyerah? Menasbihkan diri untuk jadi pecundang?

290 anak tangga menuju puncak tertinggi

Aku tidak bisa melukiskan apa-apa yang kurasakan saat berada di tanah yang tinggi itu. Satu kata: subhanallah...

sayangnya kamera tidak sehat dan kabut terus menerus menyaput pandangan

"menempuh perjalanan, menyepuh perjuangan, menggapai tanah-tanah yang tinggi adalah salah satu bentuk menempa diri"

salah satu gardu pandang dari empat gardu pandang di empat puncak

Oh ya, satu lagi yang mungkin bisa menambah kosakata wawasan kita: di puncak ini terdapat tugu batas antara DIY dan Jateng...

tugu batas DIY-Jateng


Sleman, 16 Mei 2011
menantikan petualangan selanjutnya...=)

::writing without editing::

Satu Malam bersama (Novelnya) Andrei Aksana

Pada suatu Jumat yang telah lalu, aku merasa penasaran dengan sosok itu. Sosok penulis yang aku belum pernah mendengar namanya namun ia disejajarkan dalam satu sofa panjang bersama Hilman Hariwijaya (penulis Lupus); Moamar Emka (penulis Jakarta Undercover); dan Ahmad Fuadi (penulis Negeri 5 Menara). Mereka asyik berbincang bersama Alvin Adam dalam sebuah reality show.
“buku bisa membuat orang lebih bijak dan berpengetahuan –andrei aksana”
Andrei Aksana malam itu begitu membuatku penasaran. I’ve knew Hilman, I’ve knew Emka, and I’ve knew A Fuadi...but Andrei? Who’s he? Kata-katanya pun kemudian kucatat di layar lolipop yang tengah terbentang. Suatu hari nanti, aku harus tahu siapa dia. Memang aku tidak menargetkan secara khusus untuk mempunyai buku-bukunya, novel-novelnya lebih tepatnya. Hingga pada suatu Kamis siang, di kios kecil sudut kompleks loakan buku, saat aku tengah mengobrak-abrik barisan novel, mataku membaca Abadilah Cinta, Andrei Aksana. Langsung saja kuambil buku itu yang tentu saja sudah lusuh. Buku cetakan kedua novelnya akan segera berada dalam genggamanku dengan harga sangat miring. =D =D Sehari, dua hari, baru aku sempat membacanya. Pukul delapan hingga hampir pukul setengah dua belas malam, aku menekuri kata-katanya, verbalisasi imajinasinya.

Andrei banyak bertutur tentang cinta, mungkin itu yang membedakannya dengan Hilman, Emka, dan Fuadi. Gaya bahasanya melankolis ritmis. Konfliknya? Dalam bayanganku seperti adegan di dalam sinetron, berputar-putar dalam konflik itu. Tapi konflik yang disajikan Andrei berbeda, tak ada perbedaan kontras antara protagonis dan antagonis dalam situasi multikonflik yang memang pada akhirnya hanya berujung pada satu konflik.
Amanat? Inilah bagian yang paling banyak disorot dulu saat masih di bangku sekolah, pelajaran Bahasa Indonesia, dengan sub pelajaran Apresiasi Sastra. Andrei menyajikan amanat yang menyentil, terutama bagi para orang tua. Bahwa anak tidak bisa didikte, bahwa anak tidak sepenuhnya harus diatur, apalagi dengan sangat over protective. Anak berhak memperoleh kebebasan sesuai dengan bakat dan minatnya, karena masa depan terletak di tangannya, bukan tangan orang tuanya. Orang tua hanyalah sebatas fasilitator.

The last message from that book:
Kita akan merasa kehilangan apabila pernah memilikinya... Maka jagalah harta itu, sesederhana apapun bentuk, wujudnya, bahkan jika harta itu tidak berwujud sekalipun. Karena ia punya nyawa, punya jiwa, punya hati...(meski ilmu bumi menyatakan bahwa ia benda mati, tapi ilmu fisika menyatakan bahwa setiap benda punya partikel yang senantiasa bergerak, hidup). Well, inilah Andrei Aksana.

Yes, I’ve knew him!

perahukecil, 06 Mei 2011 09:05
dan akhirnya aku menyelesaikannya pagi ini, seiring alunan melodi Kitaro Dawn-Raising Sun

sudahkah matahariku(Mu) terbit?