Jumat, 26 Februari 2010

Curhat Setan: Hanya Ingin Share


-karena janji akan share pada seorang teman. :D setelah mencoba memahami bahasa tingkat tinggi itu.

Senja itu, Senin 22 Februari 2010, saya disodori sebuah buku bersampul putih polos tanpa banyak aksen dengan tampak samping buku –sisi kanan untuk buku kebanyakan- berwarna merah. Sekilas saya hanya bilang dalam hati: buku nyentrik. :p

Seperti biasa, yang pertama saya lihat pada sebuah buku adalah penerbitnya. Penerbit buku itu Gagas Media. Okelah, bukan penerbit yang asing. Selanjutnya membuka lembar awal yang menyertakan keterangan kapan buku itu terbit dan lembar akhir yang menginformasikan siapa dan bagaimana penulisnya. Hmmm...buku baru, terbit tahun 2009 dan masih cetakan pertama. Penulisnya Fahd Djibran. Seorang yang tertarik pada musik, sastra, kreativitas, dan.............filsafat.

Well, tak perlu berpanjang lebar saya langsung diberondong buat baca Curhat Setan. Curhat Setan hanyalah salah satu judul tulisan semi-fiksi yang terkumpul dalam buku itu. Di dalamnya terdapat juga beberapa puisi karya sang penulis.

Curhat Setan mengisahkan mimpi seorang manusia. Pada mimpi tersebut dikisahkan ia didatangi setan. Tapi tidak seperti kebanyakan setan dalam persepsi manusia yang menggambarkan buruk rupanya setan, setan di sini berpenampilan sangat baik. Cermin yang tak mungkin berbuat kejahatan. Pokoknya beda banget sama persepsi manusia. Bukan setan yang punya cula tuh, bukan pula setan yang bertaring, berkulit hitam, atau bermata kemerahan.

Setan bercerita bahwa ia tak mau disalahkan atas perbuatan manusia. “Lha sing salah kan manusia, masa aku yang dibruk-bruk-i kesalahan,” kilahnya. Ya, setan memang menggoda tapi apakah setan bersalah? Bukan manusianya yang lemah iman?

Terkait dengan kisah Adam Hawa di surga, setan berkelit bahwa dengan menggoda ia hanya ingin memberi kebebasan pada dua makhluk itu untuk memilih, tanpa paksaan, tanpa kekangan. Akhirnya Adam Hawa makan buah khuldi dan diusir dari surga bersama para setan. Di sini setan merasa bahwa ia tak salah karena kenyataannya Adam Hawa tergoda (iman belum kuat-itu tangkapanku dari cerita ini). Bukankah setan tak bersalah? (tapi menurutku, seandainya setan nggak menggoda, bukankah itu lebih baik?)

Tapi mengapa Tuhan juga menyalahkannya? Lalu setan bilang kalau Tuhan itu otoriter karenanya. (nah ini yang rada nyentil menurutku :o)

Hmm.. setan dan manusia itu bersahabat. Mereka bersepakat dalam banyak hal. Setelah setan menyakinkan manusia bahwa ia tak seperti persepsi kebanyakan manusia itu. Termasuk perbuatan salah manusia. Perbuatan salah manusia tetaplah manusia yang salah, dan jika benar maka itu akan menjadi kebenaran manusia. (ya intinya setan tetaplah sang penggoda sejati).

Tapi akhirnya mereka berdebat siapa yang akan menjadi pemimpin diantara mereka dalam suatu misi membenarkan persepsi-persepsi ‘salah’ tentang setan tadi. Tak ada yang mau mengalah! Tiba-tiba (mak cling! :D) manusia teringat sebuah ayat yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna diantara semua makhluk ciptaan Tuhan. Dan mati katalah setan. Manusia lebih menang –karena lebih sempurna-. Persahabatan yang terbangun sekejap itu berakhir sekejap pula. Manusia terbangun dari mimpi. Selesailah semuanya.

“Ketika setan merasa disalahkan atas perbuatan salah manusia, ketika setan merasa bahwa Tuhan itu otoriter. Lalu siapa yang harus disalahkan?”

“Ketika semua kembali padaNya maka kebenaran itu ada pada kita sebagai makhluk yang sempurna. Tak ada yang perlu dipersalahkan dan dipermasalahkan. Pesan ada di ujung cerita, kala manusia bilang bahwa ia yang paling sempurna, dan paling pantas memimpin. Ia kembali padaNya...”

*)jangan menjadi serius, jangan dipikir dalam-dalam, ini juga hanya pemikiran dan imajinasi manusia. semua dikembalikan ke pedoman terbaik dan teragung hidup kita.

Solo, 23 Februari 2010
05:41pm
dalam dekapan senja yang terhujani tangisan langit

**)also available at terbanglahasaku.blogspot.com 

Jumat, 19 Februari 2010

Sepotong Memori Tentang Bunda

[...]
Bunda, pagi ini aku melihat senyum sang mentari di balik bukit itu. Aku melihat langit yang sangat biru, cerah sekali. Aku melihat burung-burung beterbangan kesana kemari, dan pohon-pohon dengan daun yang hijau rimbun menaunginya. Airnya mengalir pelan, menggemericik, menimbulkan riak-riak kecil. Aku bahagia bunda...
Ingatanku pun melayang ke bumi kita, bunda. Lama tak kita nikmati suasana pagi seperti ini dengan secangkir teh hangat di tangan. Bercerita tentang lalu, kini, dan esok. Menyenandungkan impian-impian yang ingin aku, bunda, dan kita raih. Menyaksikan pemandangan desa yang damai. Aaah, bunda, aku begitu rindu dengan suasana itu. Ketika alam menjadi saksi atas kebersamaan kita.
Bunda, kutatap jauh titik di sana. Bunda, kemarin aku baru saja kehilangan teman sekaligus kakak untuk selamanya. Ia telah menghadap Sang Penciptanya tanpa kuduga sebelumnya. Dan bukan tidak mungkin bunda, esok aku tak melihat senyum tulusmu itu lagi. Entah aku atau bunda yang akan mengahadapNya terlebih dahulu, sebuah kepastian yang satu itu tak terelakkan lagi.
Ketika dua mata terpejam itu tak lagi kembali terbuka. Tuluskah aku melepasnya pergi. Ketika raga yang lelah itu terbaring, dan ia akan senantiasa terbaring tak berdaya. Relakah aku melihatnya. Ketika kelak tak kutemui lagi senyum manis di pintu rumah, masihkah hatiku berwarna. Ketika belaian lembut itu tak lagi kurasakan, masihkah aku akan tertawa lagi. Ketika rengkuhan kasih sayang itu tak lagi ada, masihkah aku akan bisa menatap hari esok secerah mentari pagi ini? Bunda...siapkah aku saat Yang Lebih Berkuasa atasmu memanggilmu ke sisi-Nya? Atau siapkah bunda saat Ia pun memanggilku kembali kepada-Nya...
Kehilangan orang yang kita sayangi, kita cintai adalah sebuah kehilangan yang teramat dalam. Begitu berartinya sebuah pertemuan walau sekejap, meski hanya untuk sebuah perpisahan, kata seorang kawanku. Aku ingin memperbaiki kesalahan-kesalahanku, bunda. Aku ingin mengukir kisah-kisah manis selama kita masih dipertemukan oleh-Nya. Semoga semuanya belum terlambat.
Bunda, maafkan aku. Maaf atas semua yang tak berkenan. Maaf atas semua yang tak sengaja, dan terlalu sering yang kusengaja. Bunda, maaf untuk tak bisa membalas semua yang telah kau berikan. Tapi percayalah bunda, ananda selalu ingin menjadi yang terbaik, mempersembahkan yang terbaik. Semua agar kau dan aku bahagia.
Bunda, izinkanku belajar menjadi anak yang baik darimu. Kelak, izinkan pula aku belajar menjadi istri yang baik untuk suamiku, menantu yang baik untuk orang tua suamiku, dan ibu yang baik untuk anak-anakku. Izinkan aku selalu belajar apapun darimu dan doakan aku menjadi pribadi yang baik, bun. Doakan aku menjadi manusia yang bermanfaat bagi semesta ini. Doakan agar impian-impianku tercapai.

Ooh...bunda ada dan tiada...
Dirimu kan selalu ada di dalam hatiku...

*)potongan naskah lomba Kisah Kasih Ibu WordSmartCenter dan Mizan dengan beberapa perubahan.

Jumat, 12 Februari 2010

My Valentine...:)

Waktu terus bergulir. Era globalisasi sudah di depan mata. Pembatas antar negara kian pudar. Budaya-budaya dari luar negeri bebas masuk ke dalam negeri tanpa sempat melalui proses penyaringan. Tak sedikit orang yang terkena cipratan budaya tersebut. Parahnya, golongan remaja yang notabene masih dalam masa pencarian jati diri banyak yang ikut terlena. Generasi harapan serta penerus bangsa tak diketahui nasibnya kelak. Pikiran masih terombang-ambing dalam lautan globalisasi.
Dunia remaja adalah dunia yang penuh warna. Merasa ingin mencoba hal yang baru dan menantang adalah sifat dari kebanyakan remaja. Namun banyak dari mereka justru terperosok ke dalam lubang hitam yang penuh kehinaan, hingga masa depannya menjadi runyam. Jika generasi penerus hancur otomatis masa depan bangsa kelak juga ikut hancur.
Salah satu pengaruh yang merajai budaya remaja pop masa kini adalah Valentine’s Day. Valentine’s Day yang selalu diperingati setiap tanggal 14 Februari adalah hari kasih sayang sedunia, hari di mana mayoritas remaja mencurahkan seluruh kasih sayang mereka kepada orang yang dicintai.
Sekitar tahun 273 Masehi kepala St. Valentine, seorang pendeta Kristen dipancung oleh penguasa Roma karena memasukkan sebuah keluarga Romawi ke dalam agama Kristen. Lalu yang menjadi sebuah pertanyaan sekarang, apa hubungan antara Valentine’s Day dengan kisah pemancungan St. Valentine? Bila diruntut dari sejarah tersebut memang tak ada hubungannya sama sekali. Dalam versi lain dijelaskan bahwa pada awalnya bangsa Romawi merayakan hari besar mereka yang bernama Lupercalia pada tanggal 15 Februari sebagai penghormatan kepada Juno (Tuhan wanita dan perkawinan) dan Pan (Tuhan dari alam). Laki-laki dan wanita berkumpul lalu saling memilih pasangan dengan tukar kado dan hura-hura hingga pagi hari. Beberapa waktu kemudian pihak gereja memindahkan upacara penghormatan kepada berhala tersebut menjadi tanggal 14 Februari. Tujuannya pun dibelokkan untuk menghormati pendeta Kristen yang tewas dihukum mati, seperti disebut di atas yaitu St. Valentine.
Begitulah remaja. Mereka masih mengikuti apa yang menjadi trend masa kini tanpa mempertimbangkan untung ruginya, apalagi makna Valentine’s Day yang sebenarnya. Pokoknya asal ikut saja. Pendidikan yang tertanam serta lingkungan telah membentuk mereka untuk ikut serta dalam gelombang budaya Barat. Jika teman ikut memperingati Valentine’s Day, gengsi kalau tak ikut. Mungkin sebagian dari mereka akan mengajukan alasan senada jika ditanya alasan memperingati Valentine’s Day.
Valentine’s Day sudah jelas bukan berlatar belakang Islam. Lalu mengapa kita yang menganut Islam ikut dalam upacara penganut non Islam alias Kristen? Ketidaktahuanlah yang banyak mendorong untuk mengikuti budaya itu. Agama yang kurang tertanam hingga ke lubuk hati menjadikan tak ada pegangan untuk mengikuti arus budaya yang mengalir kian deras. Kurangnya perhatian orang tua, lingkungan yang sudah lebih dulu tercemar juga merupakan faktor pemicu.
Allah Swt. berfirman:
“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan, hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra’:36)
Allah telah menurunkan sebuah ayat yang menjadi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepadaNya. Allah tidak mengekang kita, Allah justru ingin agar makhlukNya selamat dalam mengarungi kehidupannya di dunia fana. Allah telah menggantinya dengan hari lain agar kita bisa memperingati hari raya yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha serta hari-hari lain. Toh, kasih sayang tak harus dicurahkan hanya pada 14 Februari saja. Setiap hari umat Islam dianjurkan berkasih sayang dengan sesama muslim.
Dalam sebuah hadist disebutkan:
“Perumpamaan seorang mukmin itu (dalam kasih sayang mereka, lemah lembutnya, dan rasa cinta mereka) bagaikan satu badan, apabila salah satu anggota badan menderita sakit maka seluruh badan merasakannya.” (HR Bukhari & Muslim)
Dalam hadist lain juga dikatakan bahwa:
“Seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya bagaikan satu bangunan saling menguatkan satu sama lainnya.” (HR Bukhari)
Jelaslah sudah jika umat muslim diharuskan saling menghormati serta menyayangi saudara sesama muslim kapan pun dan di mana pun berada.
Valentine’s Day hanyalah salah satu dari sekian banyak produk Barat yang telah meracuni remaja muslim. Masih banyak produk-produk lain yang telah menghancurkan remaja muslim. Sesuatu yang layak dijadikan pegangan untuk melakukan suatu perbuatan hanyalah ajaran-ajaran Islam. Pastilah bahwa dengan memegangnya kita akan selamat dunia akhirat. Masih ada waktu untuk mengubah pola hidup.
Dalam hadist riwayat Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda:
“Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku menerima (mengikuti) apa-apa yang dilakukan oleh bangsa-bangsa terdahulu (pada masa silam), selangkah demi selangkah, sehasta demi sehasta.”

Daftar Pustaka:
1. Oleh Solihin, Jangan Jadi Bebek.

Selasa, 09 Februari 2010

Mengingat Kembali: 27 Mei 2006

27 Januari 2010,
Pagi ini memang masih seperti biasanya. Tapi siapa yang menyadarinya bahwa tadi kurang lebih pukul 03:40, Jogja kembali bergoyang. Pusat gempa berada di tenggara Wonosari, Gunung Kidul yang menggoyang dengan kekuatan 5,2 SR. Itu bukan skala yang kecil.
Aih, aku jadi teringat peristiwa 27 Mei 2006. Saat itu gempa yang begitu dahsyat mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya.
Tepatnya saat itu aku kelas XI SMA.
Seperti biasa, kupersiapkan buku-buku dan peralatan yang akan kubawa ke sekolah. Satu per satu kumasukkan ke dalam tas biru sembari duduk di kursi dekat meja belajar. Di sela-sela keasyikanku itu, tiba-tiba kursiku bergoyang cukup keras. Sontak, aku berlari keluar. Kujumpai bapak sedang membopong adik terkecilku, yang saat itu berusia 2 tahun 19 hari, yang tertidur di depan televisi. Adikku yang duduk di kelas VII SMP diteriaki bapak agar segera keluar.
Ibu, bagaimana dengan ibu? Ibu kala itu sedang berada di rumah nenek yang tidak jauh dari rumah kami. Nenek baru saja pulang dari rumah sakit akibat stroke.
Setiba di luar rumah, orang-orang sudah berlarian keluar. Pohon-pohon kulihat bergoyang-goyang tak tentu arah. Tanah seolah bergelombang. Dan aku terjongkok, tanganku menumpu beban tubuh di atas tanah. Aku tak sanggup lagi berdiri. Gempa itu memang tak begitu lama dan aku pikir itu gempa yang biasa saja, seperti gempa-gempa yang pernah kurasakan.
Maka aku pun kembali bersiap diri untuk ke sekolah. Begitu juga dengan adikku. Pada pukul enam seperempat aku berangkat ke sekolah. Jalan Magelang wilayah Sleman masih seperti biasanya, hanya lampu rambu lalu lintas mati. Memasuki perempatan ringroad utara, jalan mulai ramai. Setiba di perempatan Pingit, penumpukan arus terjadi sekaligus perlawanan arus. Jalan mulai tak terkendali.
Di situ aku mulai tersadar... Mengapa aku ke sekolah dalam keadaan yang seperti ini?
Saat itu isu gunung Merapi sedang hot, gunung Merapi sedang sangat aktif. Maka dari masyarakat arah utara (Sleman) menyebutkan gempa karena gunung Merapi akan segera meletus. Sedangkan dari arah selatan (Bantul), gempa terjadi dengan pusat di laut dan tsunami sudah di ujung pantai. Yogyakarta sebagai kota yang di tengah menjadi begitu ramai.
Well, finally aku sampai di sekolah, sebuah SMA di kecamatan Wirobrajan, kodya Yogyakarta. Masih banyak teman-teman yang masuk sekolah, dan makin heboh saja sekolah. Namun waktu berselang, bel tak kunjung berbunyi, dan gempa kembali menggoyang. Kelas yang berada di lantai atas membuat semakin cemas. Sontak, sekelas keluar, berlari menuju lapangan upacara. Seeettt! Di tangga sirkulasi tiba-tiba macet.
“Tsunami! Tsunami!” beberapa orang yang berasal dari kelas lantai bawah berteriak.
Kami yang di atas, tak sabar lagi karena takut gempa akan terulang lagi.
Tapi tetap saja selama beberapa menit, keadaan statis di tangga yang diwarnai sedikit desak-desakan. Setelah diyakinkan bapak ibu guru bahwa tsunami hanyalah sekedar issue, perlahan-lahan kami turun ke lapangan. Di sana tangis teman-teman yang tinggal di daerah Bantul sudah tak terbendung lagi. Sementara jaringan telepon putus. Tidak bisa berkomunikasi dengan orang-orang rumah.
Surprise ulang tahun untuk sahabat karib juga terpaksa ditunda karena situasi yang tidak memungkinkan.
Menjelang siang, aku transit sebentar di kost teman. Belum sampai masuk bangunan rumah kost, seorang bapak dengan dua anaknya mengetuk pintu rumah di seberang jalan. Singkat kata, bapak tersebut bermaksud menitipkan kedua anaknya kepada penghuni rumah sekaligus saudaranya. Kulihat punggung bapak itu berdarah. Serbuk-serbuk serpihan beton menempel di bajunya. Sebutir air matanya tampak menetes saat ditanya bagaimana keadaan istrinya. Dengan sesenggukan beliau menjawab: tak terselamatkan.
Siang, aku kembali ke rumah. Di tengah perjalanan, abu gunung Merapi beterbangan. Mengaburkan pandanganku, menempel di sekujur tubuh dan motorku. Sesampai di rumah, ibu sudah duduk di teras rumah, menggelar tikar seraya menyetel radio. Ternyata gempa tadi pagi bersumber di laut, bukan gunung Merapi.
Selama beberapa hari kami sekeluarga tidur dan mengerjakan sebagian besar aktivitas rumah di dapur, dengan pintu yang tak terkunci. Saat menonton televisi, ingin rasanya menangis. Rumah-rumah runtuh dengan korban yang tak sedikit, baik meninggal maupun terluka, baik luka parah maupun kecil. Barak-barak pengungsian juga mulai dibangun. Posko-posko penyaluran bantuan mulai didirikan.
Sebuah cerita pilu yang tak terlupakan....

Di saat seperti itulah, terkadang baru disadari kuasa Tuhan. Baru disadari bahwa manusia memilikiNya sebagai tempat bersandar. Baru disadari bahwa manusia memiliki kesalahan-kesalahan kepadaNya. Baru meminta maaf dan memperbanyak ibadah...

Alhamdulillah Ya Rabb, Kau ingatkan hambaMu ini...


Sleman, 28 Januari 2010
02:52pm

Siti, Simbok, dan Presiden


“Mbok, kenapa ya kita nggak bisa kaya? Padahal kita kan wis berjuang…” Siti mengeluhkan kondisinya yang tak juga berkecukupan.
“Ya sabar, to Nduk…” simboknya yang sudah sakit-sakitan menimpali.
“Kapan, ya Mbok Pak Presiden ke desa kita ngasih bantuan?” Siti kembali bertanya sembari menyusun sayuran di atas tampah.
Simbok menoleh ke arah Siti, “Nggak usah mimpi muluk-muluk to Nduk, Pak Presiden nggak mungkin ke desa kita. Lha wong duit rakyat dimakan presiden sendiri kok!”
Siti, gadis kecil berumur sepuluh tahun itu terdiam mendengar kata-kata Simbok. Ia melanjutkan mengulek sambal pecel untuk melengkapi dagangan simbok di warteg pinggir desa. Siti, anak malang yang tak bisa hidup layaknya anak-anak seumurannya. Ia tak punya kesempatan bersekolah, apalagi bermain. Hari-harinya dipenuhi pekerjaan membantu simbok. Bangun tidur, ia harus membantu menyiapkan dagangan lalu mencari kayu bakar untuk memasak esok harinya. Siangnya Siti menyusul simbok di warteg untuk menggantikannya berjualan sementara simbok mengambil cucian di rumah pelanggan. Sore hari, kala matahari hampir terbenam Siti membantu simbok mencuci pakaian. Hampir tak ada kesempatan biarpun sejenak untuk sekadar bergurau bersama teman-teman sebayanya. Walau begitu hidup mereka tak kunjung membaik.
***
Usai sudah Siti membantu simbok menyiapkan dagangan. Sekarang ia tinggal membantu simbok menaikkan dagangan di punggung simbok. Tiap hari simbok membawa dagangannya dengan sebuah bakul kecil yang digendong di punggung.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh disertai goncangan dahsyat di tanah yang Siti dan simbok pijak.
“Siti, ayo keluar!” Simbok menggamit lengan Siti dan menyeretnya keluar tanpa mempedulikan dagangan lagi. Dagangan yang sudah tersusun rapi kini berhamburan di tanah.
“Mbok, apa ini?! Ada apa, Mbok?!” teriakan Siti tak terdengar Simbok.
Di luar orang-orang sudah berhamburan keluar rumah. Mereka berlari tanpa tujuan dengan teriakan yang keluar dari mulut masing-masing.
“Lindhu! Lindhu! Lindhu!” teriakan itu terdengar serentak.
“Mbok, dagangan kita!” Siti kembali masuk ke gubuk reyot, tempat tinggal mereka.
“Siti! Biar saja! Jangan masuk!” simbok berusaha mencegah Siti masuk lewat teriakan-teriakannya.
Usaha simbok sia-sia. Siti tetap masuk mengambil dagangan. Simbok pun menyusul ke dalam. Namun perlahan-lahan gubuk itu ambruk. Tiang-tiang tak mampu menahan lebih lama goncangan sesaat itu. Simbok berusaha kembali menarik Siti keluar sembari melindungi Siti dengan punggungnya. Beberapa detik kemudian goncangan berhenti. Tak terkira dan tak terduga sebuah benda melayang di atas kepala Siti dan simbok kemudian menghantam punggung simbok.
Refleks dekapan simbok pada tubuh Siti mengendor. Tubuh simbok terkulai di tanah, lantai rumah mereka. Siti bergantian mendekap simbok lalu berusaha memapahnya keluar. Usaha Siti kali ini tak sia-sia. Simbok berhasil dibawanya keluar. Darah mengucur dari punggung simbok, membasahi setiap jengkal tubuhnya. Sebagian tubuh Siti juga berlumuran darah simbok. Sedetik kemudian gubuk itu sudah rata dengan tanah.
Kini lengkap sudah penderitaan Siti. Di tengah deru kehidupan yang menyertainya ia kehilangan tempat tinggal satu-satunya. Siti juga kehilangan penghasilannya. Cucian yang akan dijemur nanti entah bagaimana nasibnya. Pecel dagangan simbok mungkin juga sudah bercampur dengan reruntuhan gubuk. Gubuk satu-satunya Siti tertindih salah satu bangunan perumahan di belakangnya. Dan simbok yang sudah sakit-sakitan terkulai tak berdaya.
***
Semua orang kini berkumpul di persawahan pinggir desa termasuk Siti dan simbok. Beruntung Siti anak yang baik hati sehingga semua orang tak sungkan menolongnya meskipun ia dan simbok miskin. Tadi simbok dipapah Mas Paijo menuju sawah ini. Punggungnya pun sudah dibalut sarung yang direlakan Mas Bejo untuk meredakan darah yang terus mengalir. Namun simbok belum juga sadar.
Semua bangunan kini tak ada lagi yang sempurna. Rumah-rumah mewah di belakang rumah Siti pun kini sama dengan gubuk mungil Siti. Semua luluh lantak tak ada yang berdiri kokoh lagi. Tak bisa terbayangkan para eksekutif kini juga merana meratapi nasib mereka. Tak ada lagi yang bisa diandalkan kecuali Tuhan.
Beberapa jam kemudian bantuan mulai berdatangan. Tenda-tenda mulai didirikan. Logistik juga mulai datang. Tenaga medis satu per satu membantu mengobati luka-luka termasuk luka simbok. Simbok sudah sadar meskipun kondisinya masih lemah. Siti duduk termenung di samping pembaringan Simbok. Satu hal yang masih ada di pikiran Siti, kapan Pak Presiden datang memberi bantuan?
Kini Siti hanya bisa termenung di bawah tenda pengungsian. Kadang ia menatap satu per satu sesama pengungsi sepertinya. Akankah ia akan hidup berkecukupan? Benarkah kata simbok kalau Pak Presiden mengambil uang rakyat? Tak ada kesibukan lagi yang dilakukannya kecuali menunggui simbok. Terkadang Siti menangis namun tatkala ia berada di dekat simbok, air mata disembunyikannya. Siti tak mau simbok sedih. Siti tak mau kehilangan simbok. Ia tak mau jadi peminta-minta. Simbok bilang, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
***
Matahari hampir tenggelam ketika terdengar sirine berdengung. Siti pun melongok keluar tenda untuk melihat apa yang terjadi. Ada beberapa orang berbadan tegap mengawal seseorang yang tinggi dan kelihatan berwibawa. Siapa dia, batin Siti. Penjahatkah? Penjajahkah?
“Pak Presiden datang! Pak Presiden datang!” beberapa orang berteriak kegirangan.
Pak Presiden datang?
Siti segera berlari ke tenda.
“Mbok, Pak Presiden datang! Pak Presiden datang, Mbok!” teriak Siti mengabari simbok. Simbok hanya bisa tersenyum. Tubuhnya masih terasa lemah.
Siti kembali keluar menyambut orang yang telah lama diimpikannya. Ia mendesak-desak orang di depannya agar bisa melihat Pak Presiden. Setelah perjuangan beberapa menit ia berada di jajaran terdepan. Pak Presiden tersenyum. Siti kini hanya bisa menatap Pak Presiden. Tak bisa berbuat apa-apa. Hingga Pak Presiden mendekatinya, membelai rambutnya yang lusuh, dan berkata, “Sabar, ya gadis kecilku…”
Siti pun menitikkan air mata keharuan. Hatinya berkata, mungkin jika semua ini tak terjadi, Pak Presiden tak akan datang.

27 Mei 2006
unforgettable moment …
Wish Allah always will be with us…

Rintihanku Tentang Bunda


Rintik-rintik air hujan masih terus membasahi bumi kala ku termenung di kamar menatapnya. Awan hitam masih menggelayut di langit yang seharusnya biru. Pikiranku terus mengembara diantara kisah-kisahku.
“Ri, aku pengen curhat denganmu,” aku beranjak dari tempatku duduk menuju meja belajar.
Ri masih terdiam.
“Ri, kenapa sih aku dilahirkan seperti ini? Kenapa nasibku seperti ini? Aku tak paham… Aku benci semua ini, Ri!!! Kenapa ibu seakan tak memperhatikanku? Terus saja sibuk dengan kehidupannya… Sedari tadi pagi aku belum makan nasi, aku hanya makan sepotong roti, oleh-oleh paman. Sepulang sekolah ketika kubuka tudung saji tak ada sebutir nasi atau lauk pun terpampang di pelupuk mataku. Hanya ada sepotong kue kecil di atas piring. Mereka benar-benar tak memperhatikanku!!! Aku tahu kesibukan mereka, Ri… Aku tahu, Ri! Tapi…” isakan tangisku mulai terdengar, tetes air mata jatuh seperti gerimis di luar sana.
“Tapi seenggaknya kasih sayangnya… kasih sayang mereka padaku bertambah, Ri…” aku akhirnya meninggalkan Ri sendirian di kamar. Ri masih diam saja.
* * *
Dua hari kemudian…
“La, ibu mau ke Bali sekitar seminggu ke depan, berangkat besok Senin sore. Kamu bantu Mbok sama bapak di rumah, ya! Udah mulai libur, kan?” ibu mengatakan hal itu ketika aku menyelesaikan membaca novel yang lagi hot dibicarain di sekolah.
Aku terhenyak seketika, “Acara apa sih, Bu? Nggak bisa ditinggal, ya?”
Ibu mengambil cangkir kopinya lalu meneguknya, “Studi banding di sana, masak mau ditinggal? Ibu ndak tega sama teman-teman.”
Aku terdiam. Tiba-tiba saja ide-ideku lenyap. Kubiarkan novel itu tergeletak di sofa. Aku beranjak ke kamar mandi.
“BYURR!!!”
Guyuran air ke mukaku membuat dingin wajahku. Tapi hatiku ini tak jua dingin. Aku masih belum bisa menerima. Aku tak bisa ditinggalkan ibu meskipun sebenarnya tiap hari ibu seakan juga tak mempedulikanku. Entah kenapa hati kecilku tak rela. Mungkin kasih ibu yang tak kurasakan masih bisa dirasakan hati kecilku ini.
Aku kembali ke sofa dengan membawa susu cokelatku.
“Hanya seminggu kok, La. Besok Ibu beliin oleh-oleh, deh! Kamu mau apa? Baju, souvenir, atau makanan?” ucap ibu seraya menyeruput kopinya kembali.
Aku turut meneguk susu cokelatku lalu aku terdiam sejenak.
“Terserah Ibu. Tapi aku pengen souvenir aja..” ucapku datar. Aku tak tega untuk tak menjawab pertanyaan ibu.
“Ya, sudah besok Ibu beliin.”
* * *
Hari Senin pun tiba.
Koper besar sudah terisi pakaian ibu. Ibu masih berada di kamarnya memperkirakan barang apa lagi yang harus dibawanya. Hingga detik demi detik berlalu, Senin sore telah berada di depan mata.
“La, Ibu berangkat dulu, ya! Jangan lupa bantu Mbok dan Bapak, ya?!” ibu menepuk bahuku lalu mencium keningku.
Aku hanya mengangguk pelan. Dadaku terasa sesak.
Setelah mobil yang membawa ibu berlalu menuju bandara, aku lari ke kamar. Kukunci pintu lalu kehempaskan tubuhku ke atas ranjang. Kubenamkan kepalaku di bawah bantal. Kutumpahkan air mata yang telah mendesak-desak kelopak mataku. Aku menangis. Isakanku semakin keras ketika aku teringat kekesalanku kepada ibu. Selimutku menjadi korban pengusap air mata. Ujung-ujungnya terasa basah.
Tak terasa aku tertidur. Ketika aku bangun jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Astaga!!! Aku bangun menuju kamar mandi, cuci muka. Lalu kugapai handphoneku.
1 pesan diterima.
“Met tidur ya, say!”
“Dari ibu?” aku heran.
Bahasa SMS ibu tak seperti biasanya.
“Say? Darimana ibu dapat kata-kata itu?” batinku.
Keherananku makin bertambah ketika aku sadar bahwa ibu ternyata memperhatikanku. Tetapi kenapa kalau di rumah ibu tak seperti ini. Kebingunganku akhirnya sirna perlahan-lahan bersama rasa kantukku yang kian tak tertahankan.
* * *
“Mbok, ada yang perlu dibantu nggak?”
“E…apa ya, Mbak? Ini aja tolong jagain gorengan ini, Mbok mau ke warung sebentar, beli bawang merah sama bumbu yang lain. Atau Mbak aja yang beli ke warung?” Mbok yang sudah melangkah, membalikkan tubuhnya lagi.
“Mbok, aja! Aku ndak tau apa yang mesti dibeli.” Aku pun melangkah menuju pengorengan.
“Jangan sampe gosong lho, Mbak!” pesan Mbok.
“Ya, Mbok!” aku mengiyakan.
Aduh, lama banget sih matangnya! Dari tadi bolak-balik belum kecokelatan warnanya. Mendingan nyelesaiin baca novel yang kemarin barusan dibeli.
Aku melangkah menuju kamar mengambil novel. Sedetik kemudian aku sudah berada di sofa yang letaknya bersebelahan dengan dapur. Aku sudah terlarut dalam keasyikanku ketika tiba-tiba…
“Mbak!!! Gosong, nih!” teriak Simbok dari dapur.
Aku terhenyak. Kaget. “HAH!!! Maaf, Mbok, habis tadi lama banget sih warnanya berubah jadi kecokelatan. Sini kubantuin masak lagi, deh!”
“Bisa nggak ngiris bawang merahnya, dikupas dulu jangan lupa!” Mbok memberikan instruksi lagi.
Aku mengambil pisau. “Coba dulu, ya, Mbok!”
“He’eh,” Mbok menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian…
“Aduh!!!”
“Kenapa, Mbak?” Mbok menoleh padaku.
“Luka, Mbok. Aku ambil obat merah dulu, ya!” Aku berlari ke kotak obat di pojok ruang sebelah.
Ternyata susah, ya jadi ibu. Harus ngerjain ini itu, belum lagi kalau anaknya masih kecil. Kasihan ibu…
* * *
Hari ini ibu pulang. Aku harus menjemputnya di bandara. Bapak tak bisa menjemput. Ada urusan dengan rekan kerjanya. Sebenarnya aku enggan tapi siapa lagi kalau bukan aku yang menjemput.
Pukul 10.00 pagi, aku sudah stand by di bandara. Menantikan kedatangan ibu dengan menunggu. Membosankan. Beberapa waktu kemudian ibu tiba-tiba sudah berada di sampingku.
“Makasih, ya, La mau njemput Ibu di bandara,” Ibu tampak bahagia.
“Sama-sama,” Aku memaksakan tersenyum. Beberapa kejadian menyebalkan bersama ibu masih terngiang di benakku.
“Pulang, yuk!” ajak Ibu.
Aku hanya mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamar. Belum sempat aku melangkahkan kaki lebih jauh ke dalam terdengar suara Ibu.
“La, nih oleh-oleh buat kamu!” teriak Ibu sambil mengetuk pintu.
Kuputar handle pintu. Ibu mengangsurkan sekantung plastik besar ke tanganku.
“Makasih, Bu,” Hanya itu yang sanggup kuucapkan.
Ibu kembali ke kamarnya sedangkan aku kembali masuk ke dalam. Pelan-pelan kusibakkan plastik itu dan kukeluarkan isinya perlahan-lahan. Ada baju plus rok panjang, ada kalung dari kayu yang berbentuk bulat, ada ukiran Bali, dan ada lukisan panorama alam Bali. Wow!! Aku suka lukisan panorama. Aku telah memimpikannya sejak dulu tapi kalau aku minta uang kepada ibu, ibu selalu menjawab ‘besok’.
Aku segera berlari ke kamar ibu. Tanpa sempat mengetuk pintu aku masuk ke dalam. Tampak ibu sedang di ranjang memegang ponsel. Aku menghamburkan tubuhku ke pelukannya, pelukan terhangat. Lalu entah sadar atau tidak aku mengucapkan, “I love you Mom!”

Ganbar copas dari: andikabayuherbowo.wordpress.com.

Ekspedisi Bandung: Untuk Seribu Langkah, Untuk Seribu Mimpi [part 10: Pantai Petanahan, Kebumen]

Seperti tertulis di tiket masuknya, Pantai Petanahan, Kebumen. Ya, sebelum mencapai Solo, kami mampir sejenak ke Pantai Petanahan. Pagi itu, mentari sepenggalah naik.
Pantai yang unik. Ada perosotan dan beberapa mainan anak di depan pintu masuk. Lalu ada panggung yang berdinding sebagai pembatas dengan pantai. Dinding-dinding itu seolah menyembunyikan pantainya. Namun dengan begitu, justru panorama pantai itu menjadi sebuah kejutan.
Pantai yang berkontur. Pantai berada di bawah, seperti ada tebing rendahnya yang memangku air pasang. Ombak masih tetap bergulung-gulung layaknya pantai lainnya. Batas antara langit dan laut yang jauh di ujung itu masih tetap misteri.
Dan pada akhirnya, kami harus benar-benar kembali ke Solo lewat jalur selatan.
Maaf teman, saya turun di Yogyakarta, mendahului kalian. Yeah, Jombor menjadi titik perpisahan sejenak itu.
Beribu kisah... From Bandung with Dreams...=D
Last but not least...
Thanks a lot untuk Allah SWT [untuk segala anugerah yang tak terhingga], Bapak dan Ibu [kebijaksanaan dan kepercayaan yang sungguh begitu besarnya, love you all forever], HMA Vastu Vidya UNS [kesempatan, kebersamaan, kenangan, kekonyolan, dan ke-an yang lain], Mb Ininig-Mb Retno [spot terakhir itu begitu konyol tapi tak terlupakan deh]
[Teladan’07-ers...koloni jeruk]
Anant & Entik [yang telah menjadi guide sehari keliling ITB], Hani [pertemuan tak terduga di depan Kantin Salman ITB], Yuyun [pertemuan tak terduga di selasar depan ITB], Arif & Hen-Yun [beberapa potong kata di YM dan SMS], teman-teman, kakak-kakak, dan adik-adik alumni Teladan di ITB [maaf tak bisa memberi kabar untuk semua, semoga sukses!]
[FIM-ers Bandung]
Teh Dila, Na [aku sudah sampai matematika, maaf belum bisa bertemu], Teh SiFat [terima kasih sudah melupakan kehadiranku di Bandung], Na [kenapa kita ga jadi ketemuan ya?=D] Kak Gilang [sepotong kata di YM], para kunang-kunang Bandung [maaf juga tak bisa memberi kabar untuk semua :D], Kak Nafisah [saya ragu, yang kulihat melintas di Salman itu dirimu bukan ya?]
Roda-roda besar yang membawa kami berlari beserta crew...

Ekspedisi Bandung: Untuk Seribu Langkah, Untuk Seribu Mimpi [part 9: D’Waroeng and Kembali Pulang]

Lepas dari Bottle House, saat hari mulai menjelang malam, kami menuju D’Waroeng untuk sekedar share antar kami, juga dengan teman-teman dari FIMA Jabar.
Sayangnya, panitia memberitahukan bahwa panitia tidak memfasilitasi makan malam ini. Sedikit kecewa... Maka saya dan beberapa teman memilih menu yang sedang-sedang saja. Dalam kondisi yang memang sudah lapar, makanan di depan mata ini langsung saja tersantap. Yummy...! Hanya memerlukan waktu singkat untuk menghabiskannya.
Sesaat sebelum kami menuju meja kasir, salah seorang panitia berteriak bahwa panitia akan membayari makanan plus minuman yang sudah masuk ke lambung.
Komentar yang terdengar, “Yaaah, tahu gitu, tadi pesan makanan yang berkelas sekalian.” =D
Di sanalah ujung dari ekspedisi kami ke Bandung. Kami belajar banyak hal di sana, tak hanya sekedar arsitektur seperti bidang pendidikan yang sedang kami tempuh. Kami juga belajar tentang hidup, melihat realita yang ada. Kami jadi lebih mengenal teman-teman seangkatan, lebih mengenal kakak-kakak dan adik-adik tingkat. Kami juga menjadi memiliki teman-teman baru dari ITB, FIMA Jabar, juga Pecha Kucha.
Dan malam itu, kami kembali ke Solo. Kami akan mengukir kembali cita-cita kami di sana untuk kemudian melangkah lebih jauh, meraih bintang-bintang yang lebih banyak dan bersinar. Bubye Bandung... Nantikan kami kembali suatu saat nanti.

Ekspedisi Bandung: Untuk Seribu Langkah, Untuk Seribu Mimpi [part 8: The Bottle House]

Bottle House akhirnya mendapat restu untuk menerima kedatangan kami.
Bottle House adalah rumah tinggal milik Ridwan Kamil, yang juga diarsitekinya sendiri. Dibangun dengan menggunakan 30.000 botol bekas sebuah merk minuman. Botol bekas tersebut disusun dan ditempelkan sehingga membentuk bidang-bidang serupa dinding yang semi transparan. Keprivasian tetap terjaga, cahaya dan sirkulasi udara tetap bisa masuk.
Ada cerita unik mengapa Emil memilih botol sebagai partisinya. Hal itu dikarenakan para tukangnya terbiasa mengkonsumsi minuman-minuman tersebut dan membuang botolnya hingga akhirnya menumpuk. Dari sanalah inspirasi Emil muncul. Seperti dikemukakan beliau bahwa terkadang ide-ide spektakuler justru muncul kemudian, bukan pada saat perencanaan perancangan.
Bottle House juga didesain dengan efek melayang. Sebagai contoh terdapat pada tangga menuju teras yang memang tidak masif serta susunan botol-botol kaca yang tidak menyentuh lantai. Susunan botol-botol tersebut diperkuat dengan bingkai-bingkai kayu pada tiap beberapa botol.
Pada bagian tengah rumah terdapat innercourt yang mengapit dua lantai di depannya dan tiga lantai di belakangnya. Area innercourt ini juga biasa digunakan untuk berkumpulnya keluarga atau acara-acara skala sedang seperti pengajian, yang merupakan perluasan dari ruang keluarga. Pada bagian kanan innercourt memanjang terdapat kolam renang yang tidak terlalu luas tetapi cukuplah sebagai penyejuk dan penyeimbang suasana. Terdapat pula kursi malas berwarna merah menyala sebagai point of interest.
Ada lagi yang unik dari rumah tersebut. Tangga yang didesain hanya untuk penghuni rumah. Tangga tersebut pada beberapa bagian tidak memiliki ketinggian yang sama. Jadi, bagi orang awam, perlu kehati-hatian untuk menapakinya. Alasan mengapa dibuat seperti itu rupanya adalah agar dapat sekaligus dijadikan tempat duduk saat menonton film dan sejenisnya yang memakai layar berupa tembok putih di depan tangga.
Ide yang bagus!
Perpustakaan yang terletak di lantai tiga dan menghadap innercourt, bernuansa khas seorang arsitek. Buku-buku arsitektur terpajang rapi di rak-rak. Sementara itu di sebuah rak sepinggang berjajar miniatur bangunan-bangunan terkenal di dunia. Hmmmm....serasa ingin memilikinya. =D

Titik Koma

mengingat dua koma
membuatku ingin melupakan
dua titik itu
yang menyesap-nyesap tanpa hinggap
di pucuk-pucuk gelap
menyisakan tanya di ujung pelita
selamat tinggal kau

Sleman, 29 Januari 2010

Sepotong Senja untuk Kita


Di pantai ini
kita pernah bersama
pada suatu senja

Pada kecupan manis mentari
di pipi cakrawala
lalu tenggelam menembus horizon

Apakah kita lupa
kita pernah tertawa bersama
seraya menelan kunyahan
jagung bakar
sembari membiarkan angin laut
menyisir persil-persil kenangan

Di pantai itu
semua tentang kita
mengalun

Sleman, 29 Januari 2010
beberapa jam lagi aku akan kembali ke pantai itu, kawan

Genggaman Semu di Tanganku


Aku tak mau lagi bicara tentang bintang
yang hanya akan mengikis habis
semua mimpiku tentang asa

Aku juga tak mau lagi bicara tentang asa
yang hanya akan menggerus semu
cerita teka tekiku tentang bintang

Lalu aku harus bicara apa?
Saat bintang dan asa muncul bersamaan
menyusuri jejakku, lalu menyusup dalam
genggaman tangan kosongku
menandai ruas-ruas jariku
dengan lengkungan-lengkungan sabit
menyapaku pada lamunan
mengisi ruang-ruang kosong yang tersisa

Kau bintang, kau asa
kau buat aku bingung
kau jadikan langkahku tak tentu arah
aku limbung, plin plan

Aku lari saja ya...
biar kau jatuh setetes demi setetes
pada serbuk-serbuk pasir putih
di pantai
biar kau meresap ke lembutnya pasir
membumi

Biarkanku sendiri dulu
atau kau pastikan langkahmu
buatku

Sleman, 29 Januari 2010